Harga Emas Tersandera Jelang Keputusan The Fed, Perak Anjlok Brutal

 

Harga Emas Tertahan Menjelang Keputusan The Fed, Perak Jatuh Drastis

Karyawati menunjukkan emas Pegadaian di salah satu galeri 24 Pegadaian, Salemba Jakarta, Kamis (4/5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Harga emas global bergerak konsolidatif pada Jumat pagi, 5 Desember 2025. Pasar menahan diri sambil menunggu data penting inflasi Amerika Serikat dan keputusan suku bunga The Federal Reserve. Kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar membuat harga emas bergerak tipis dalam dua hari terakhir.

Emas Dunia Bergerak Melemah di Awal Perdagangan

Hingga pukul 06.40 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,06% ke level US$4.205,03 per troy ons. Pergerakan ini melanjutkan koreksi tipis sehari sebelumnya, ketika harga hanya naik 0,04% ke US$4.207,69 per troy ons. Pasar emas terlihat ragu karena dua faktor utama saling menarik arah harga.

Imbal Hasil Obligasi Naik, Dolar Melemah

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan ruang gerak emas, sementara pelemahan dolar memberi dorongan kecil bagi logam mulia. Analis Marex, Edward Meir, menilai kenaikan yield menjadi faktor utama yang menghambat penguatan emas meskipun dolar sedang melemah.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik, sedangkan indeks dolar AS sempat menyentuh titik terendah satu bulan sebelum ditutup sedikit lebih tinggi di angka 98,99, naik 0,14%. Perubahan ini membuat harga emas lebih terjangkau bagi pembeli dari luar AS, tetapi belum cukup kuat mengimbangi tekanan yield.

Data Tenaga Kerja AS Memberi Sinyal Campuran

Pasar juga menanggapi laporan terbaru tentang kondisi tenaga kerja Amerika Serikat. Klaim awal tunjangan pengangguran turun tajam 27.000 menjadi 191.000, jauh di bawah ekspektasi pasar. Penurunan ini menandakan ketahanan pasar tenaga kerja, meski beberapa indikator lain menunjukkan perlambatan ekonomi.

Rata-rata klaim empat minggu turun ke 214.750, memperlihatkan tren perbaikan. Klaim lanjutan tetap stabil di 1,3%, dengan total 1.939.000 penerima tunjangan pada pekan terakhir.

Namun data PHK memberi gambaran berbeda. Perusahaan AS mengumumkan 71.321 PHK pada November 2025, jumlah tertinggi untuk bulan tersebut sejak 2022. Sektor telekomunikasi dan teknologi menjadi penyumbang terbesar. Meski demikian, angka PHK turun dibanding Oktober yang mencapai 153.074.

Tenaga Kerja Swasta Mengalami Kontraksi

Laporan ADP menunjukkan tenaga kerja swasta turun 32.000 pada November, mencatat penurunan terdalam dalam dua setengah tahun. Data ini memperkuat pandangan bahwa The Fed perlu merespons pelemahan sektor tenaga kerja dengan penurunan suku bunga.

Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan 9-10 Desember. Jika proyeksi itu terjadi, emas biasanya memperoleh keuntungan karena suku bunga rendah menekan imbal hasil aset lain.

Investor Menanti Rilis PCE, Indikator Favorit The Fed

Seluruh perhatian pasar kini tertuju pada rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan September, indikator inflasi pilihan The Fed. Pasar memperkirakan harga emas akan tetap bergerak dalam kisaran sempit hingga laporan tersebut dirilis. Meir memperkirakan emas belum akan menguji ulang level tertinggi tahunan di sekitar US$4.400 dalam waktu dekat.