Mendagri Sebut Lonjakan Harga Emas Dorong Inflasi Desember 2025

Tito Karnavian Tegaskan Emas Jadi Pendorong Utama Inflasi
JAKARTA – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan lonjakan harga emas menjadi faktor utama meningkatnya inflasi pada Desember 2025. Tito menjelaskan, harga emas Antam 24 karat pagi tadi tercatat mencapai Rp 2.916.000 per gram, mendekati angka Rp 3 juta per gram. Kenaikan ini mendorong inflasi tahunan mencapai 2,92%, dengan harga perhiasan emas menjadi kontributor terbesar.
Tito Jelaskan Gejolak Harga Emas Dipicu Perang Rusia-Ukraina
Tito memaparkan bahwa kenaikan harga emas terjadi karena pergerakan geopolitik global yang memanas. Rusia melakukan pembelian emas besar-besaran setelah cadangan devisanya dalam bentuk dolar AS diblokir oleh negara-negara Barat akibat serangan ke Ukraina. Kondisi ini membuat Rusia beralih mencari cadangan yang lebih aman, yaitu emas, untuk menjaga stabilitas finansialnya.
Negara Lain Ikuti Strategi Rusia dan Membeli Emas
Tito menambahkan, strategi Rusia dalam menumpuk emas diikuti oleh negara-negara lain seperti China dan India. Negara-negara tersebut khawatir cadangan dolar AS mereka akan terdampak oleh ketegangan global, sehingga ikut menimbun emas. Bahkan beberapa negara membeli tambang emas untuk menambah cadangan. Aksi ini menciptakan permintaan emas yang tinggi secara global dan menekan harga ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Lonjakan Harga Emas Menimbulkan Efek Inflasi Global
Akibat lonjakan harga emas, masyarakat merasakan dampak inflasi yang meningkat, karena emas menjadi komoditas global dengan pengaruh luas. Tito menekankan bahwa fenomena ini mirip “gold rush”, di mana pembelian emas terjadi secara masif dan bersamaan di banyak negara. Lonjakan harga emas tidak hanya mempengaruhi sektor perhiasan, tetapi juga memberi tekanan pada inflasi nasional dan global.
Pemerintah Terus Memantau Stabilitas Harga
Tito menegaskan pemerintah terus memantau harga emas dan melakukan koordinasi untuk mengendalikan inflasi. Pemantauan ini penting agar lonjakan harga emas tidak memicu tekanan ekonomi yang lebih luas, terutama pada daya beli masyarakat dan kestabilan pasar keuangan.
