Harga Emas Dunia Naik ke Rekor Baru di Tengah Ketegangan Politik

Investor Serbu Emas untuk Lindungi Aset dari Risiko Global
JAKARTA – Harga emas dunia menembus rekor baru di atas US$ 5.100 per ons atau sekitar Rp 85,17 juta pada Senin (27/1/2026). Lonjakan ini terjadi karena investor berlomba mencari aset aman di tengah ketegangan politik internasional. Emas spot naik 2% menjadi US$ 5.077,22 per ons setelah sempat menyentuh US$ 5.110,50, sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari ditutup naik 2,1% di level US$ 5.082,50 per ons.
Bank Sentral dan Investor Ritel Tingkatkan Pembelian Emas
Presiden Sprott Inc, Ryan McIntyre, menyatakan harga emas terus naik karena ketidakpastian geopolitik dan ekonomi memicu pembelian besar-besaran. Bank sentral tetap menjadi pembeli utama, melakukan diversifikasi cadangan devisa untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Investor ritel di Asia dan Eropa juga menambah kepemilikan emas dan perak, mendorong permintaan logam mulia meningkat.
Dana Investor Mengalir ke Produk ETF Berbasis Emas
McIntyre menambahkan, arus dana investor ke produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas fisik meningkat sekitar 20% dibandingkan setahun lalu. Gelombang investor baru, termasuk ritel, mendorong harga emas dan perak ke level tertinggi. Permintaan ini menunjukkan logam mulia tetap menjadi pilihan utama untuk lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ketegangan Politik AS Dorong Lonjakan Harga Emas
Perkembangan geopolitik turut memengaruhi pasar. Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 100% terhadap Kanada jika kesepakatan dagang dengan China berlanjut. Kepala Riset BullionVault, Adrian Ash, menilai kebijakan Trump menjadi faktor utama penggerak pasar logam mulia tahun ini. Situasi ini membuat investor memperkuat portofolio emas sebagai perlindungan terhadap risiko perdagangan dan ekonomi.
Emas Catat Kenaikan Signifikan Tahun Ini dan Tahun Lalu
Sejauh tahun 2026, harga emas telah naik hampir 18% setelah melonjak 64% sepanjang 2025. Tahun lalu, logam mulia melewati tonggak penting, termasuk menembus US$ 3.000 dan US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya. Kenaikan ini menegaskan posisi emas sebagai aset safe haven utama bagi investor global.
