Koreksi Harga Emas Domestik Terjadi Sepanjang Pekan Hingga Minggu 4 Januari 2026

Harga emas domestik mengalami koreksi sepanjang pekan perdagangan yang berakhir Minggu, 4 Januari 2026. Tekanan jual mendorong harga emas Antam turun sekitar 4,16%, sementara emas digital Treasury melemah sekitar 5,13%. Pelemahan ini muncul seiring sikap hati-hati investor, minimnya katalis penggerak pasar, serta dinamika global yang belum memberikan dukungan kuat bagi harga emas hingga akhir pekan.
Harga emas Antam membuka pekan di level Rp2.596.000 per gram pada Senin. Tekanan jual langsung meningkat pada Selasa dan menekan harga turun tajam ke Rp2.501.000 per gram, sebelum bergerak relatif stabil hingga Kamis. Pada Jumat, harga sempat mencatat pemulihan terbatas ke Rp2.504.000 per gram, namun kembali melemah dan ditutup Sabtu di Rp2.488.000 per gram. Pola ini menegaskan tren koreksi yang mendominasi pergerakan emas Antam sepanjang sepekan.
Tekanan Jual Berkelanjutan Menekan Harga Emas Digital Treasury
Pergerakan serupa terjadi pada emas digital Treasury yang mencatat tekanan berkelanjutan sepanjang pekan. Harga emas digital membuka perdagangan Senin di level Rp2.564.355 per gram, kemudian turun secara bertahap hingga mencapai Rp2.429.304 per gram pada Kamis. Upaya pemulihan muncul pada Jumat ketika harga naik ke Rp2.471.916 per gram, namun tekanan kembali mendominasi pasar dan membawa harga ditutup Sabtu di Rp2.432.722 per gram.
Koreksi pada emas Antam dan emas digital Treasury mencerminkan fase konsolidasi pasar. Aksi ambil untung setelah reli sebelumnya, volatilitas sentimen global, serta absennya katalis kuat membuat investor cenderung menahan posisi dan mengurangi eksposur jangka pendek terhadap emas.
Ekspektasi Kebijakan Global Menentukan Arah Harga Emas Pekan Depan
Memasuki pekan berikutnya, arah harga emas akan sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter global, khususnya arah suku bunga The Fed. Harapan penurunan suku bunga berpotensi menekan imbal hasil aset berbunga dan kembali meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Selain itu, risiko geopolitik dan pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi faktor fundamental yang menopang prospek jangka menengah.
Meski peluang penguatan tetap terbuka, risiko koreksi lanjutan masih membayangi. Kondisi teknikal yang sempat berada di area jenuh beli berpotensi memicu aksi ambil untung lanjutan. Namun, selama kebijakan moneter global cenderung longgar dan ketidakpastian global bertahan, emas diperkirakan tetap menarik bagi investor domestik dan global dalam horizon jangka pendek hingga menengah.
