Harga Emas Global Melemah Tipis pada Sabtu 3 Januari 2026 di Awal Tahun

Perdagangan emas dunia pada pekan pertama 2026 bergerak dengan kecenderungan melemah seiring sikap hati-hati pelaku pasar di tengah minimnya katalis baru. Hingga penutupan Jumat, 3 Januari 2026, harga emas tercatat turun sekitar 4,47% dari posisi penutupan pekan sebelumnya di USD4.532,28 per troy ons menjadi USD4.329,89 per troy ons. Pelemahan ini mencerminkan fase konsolidasi setelah reli kuat yang terjadi menjelang akhir 2025.
Harga emas membuka perdagangan awal pekan di level USD4.331,68 per troy ons pada Senin. Tekanan jual masih mendominasi pasar karena investor menyesuaikan posisi setelah kenaikan tajam sebelumnya, sekaligus merespons rendahnya aktivitas transaksi global selama periode pergantian tahun.
Aktivitas Perdagangan Sepi Membatasi Ruang Penguatan Harga Emas
Pada Selasa, harga emas sempat mencatat kenaikan terbatas ke level USD4.346,20 per troy ons. Pergerakan ini menunjukkan adanya upaya stabilisasi, meskipun minat beli belum cukup kuat untuk mengubah arah pasar secara signifikan. Kondisi likuiditas yang tipis membuat setiap sentimen cepat direspons pasar, namun tanpa diikuti pergerakan lanjutan yang konsisten.
Tekanan kembali menguat pada Rabu ketika harga emas turun ke USD4.317,64 per troy ons. Penurunan ini menegaskan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi menurun, dengan investor memilih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter dan rilis data ekonomi penting berikutnya sebelum mengambil posisi lebih agresif.
Perdagangan emas global sempat terhenti pada Kamis seiring libur Tahun Baru. Ketika pasar kembali dibuka, harga emas ditutup di level USD4.329,89 per troy ons pada Jumat. Posisi ini menunjukkan emas masih mampu bertahan di tengah tekanan, meski berada di level lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.
Ekspektasi Kebijakan Moneter dan Geopolitik Menentukan Sentimen Pasar
Sepanjang pekan pertama 2026, pergerakan harga emas dipengaruhi oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi, serta dinamika geopolitik global. Lingkungan suku bunga rendah tetap mendukung emas sebagai aset lindung nilai, sementara pembelian bank sentral dan arus masuk ETF menjaga fondasi permintaan jangka menengah.
Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia terus menopang daya tarik emas, meskipun likuiditas rendah mendorong aksi ambil untung jangka pendek. Memasuki pekan-pekan berikutnya, prospek emas dinilai tetap konstruktif, dengan volatilitas diperkirakan meningkat seiring kembalinya aktivitas pasar global secara bertahap.
