Harga Emas Menguat pada Sabtu 17 Januari 2026 dan Menutup Pekan dengan Kinerja Positif

Harga emas dunia bergerak menguat sepanjang pekan dan ditutup positif pada Sabtu, 17 Januari 2026. Jika dihitung dari penutupan Jumat pekan sebelumnya di level USD4.509,79 per troy ons hingga akhir pekan di USD4.594,72 per troy ons, harga emas tercatat naik sekitar 1,88%. Kenaikan ini mencerminkan sentimen pasar yang relatif stabil dengan kecenderungan tetap berpihak pada aset lindung nilai.
Pada awal pekan, harga emas langsung mencatat lonjakan signifikan. Perdagangan Senin mendorong harga emas naik ke level USD4.593,49 per troy ons. Penguatan ini menunjukkan minat beli yang masih kuat, seiring pelaku pasar menjaga eksposur terhadap emas di tengah kondisi global yang dinilai cukup kondusif namun tetap sarat risiko.
Fluktuasi Harian Tidak Menghapus Tren Penguatan Harga Emas
Memasuki Selasa, harga emas mengalami koreksi tipis ke posisi USD4.587,39 per troy ons. Penurunan terbatas ini mencerminkan aksi ambil untung jangka pendek setelah penguatan tajam sehari sebelumnya. Meski demikian, tekanan jual belum cukup besar untuk membalikkan arah tren utama pasar emas.
Penguatan kembali berlanjut pada Rabu dengan kenaikan harga emas ke level USD4.620,48 per troy ons. Tren positif ini berlanjut hingga Kamis ketika harga bergerak sedikit lebih tinggi ke USD4.623,70 per troy ons. Pergerakan tersebut menandakan minat beli investor tetap terjaga di tengah volatilitas yang relatif terkendali.
Menjelang akhir pekan, harga emas terkoreksi ke USD4.594,72 per troy ons pada Jumat. Meski turun dari level tertinggi pekan ini, emas tetap mampu mempertahankan sebagian besar kenaikan sebelumnya dan menutup perdagangan mingguan dalam kondisi menguat.
Sentimen Global dan Kebijakan Moneter Menggerakkan Pasar Emas
Sepanjang pekan, sentimen positif masih mendominasi pasar emas global. Investor terus memanfaatkan emas sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar dan mendorong permintaan terhadap emas.
Dari sisi kebijakan moneter, perhatian pasar tertuju pada dinamika internal The Federal Reserve. Tekanan politik terhadap bank sentral Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran terhadap independensi kebijakan moneter. Situasi ini memperkuat daya tarik emas sebagai aset yang relatif tahan terhadap risiko kebijakan.
Data ekonomi Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan harga emas. Sinyal perlambatan inflasi dan indikasi melemahnya pasar tenaga kerja menekan pergerakan dolar AS. Kondisi tersebut membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor global meski sempat diwarnai aksi ambil untung dan rebalancing indeks komoditas dalam jangka pendek.
