Harga Emas Dunia Menembus Rekor Baru dan Diproyeksikan Terus Menguat hingga Akhir 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
Jakarta – Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Senin, 27 Januari 2026. Lonjakan ini terjadi ketika investor global semakin agresif memburu aset aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko fiskal yang membayangi perekonomian dunia. Pergerakan harga tersebut menegaskan posisi emas sebagai instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.
Emas spot melonjak sekitar 2,4 persen hingga menembus level USD 5.100 per ounce. Setelah menyentuh puncak di kisaran USD 5.102 per ounce, harga emas masih bertahan kuat di area USD 5.080-an. Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari juga menguat lebih dari 2 persen dan diperdagangkan di atas USD 5.080 per ounce.
Ketegangan Geopolitik Global Mendorong Minat Investor ke Aset Aman
Lonjakan harga emas dunia berlangsung seiring meningkatnya risiko geopolitik di berbagai kawasan strategis. Ketegangan di sejumlah wilayah, mulai dari Greenland, Amerika Selatan, hingga Timur Tengah, mendorong investor mengalihkan portofolionya ke emas sebagai aset pelindung nilai.
HSBC menilai penguatan emas dan perak dalam beberapa waktu terakhir tidak terlepas dari isu geoekonomi yang semakin kompleks. Kondisi tersebut membuat emas kembali menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai kekayaan di tengah ketidakpastian kebijakan global dan potensi gejolak ekonomi.
Selain emas, harga perak juga mencatatkan kenaikan signifikan. Perak spot melonjak hampir 5 persen dan diperdagangkan mendekati USD 108 per ounce, didorong oleh permintaan industri yang tetap solid di tengah pemulihan sektor manufaktur global.
Analis Memproyeksikan Harga Emas Bertahan Tinggi Sepanjang Tahun
Analis Union Bancaire Privée menilai reli harga logam mulia masih akan berlanjut sepanjang tahun ini. Permintaan yang konsisten dari investor institusional dan ritel, ditambah pembelian agresif oleh bank sentral, menjadi faktor utama yang menopang harga emas di level tinggi.
UBP memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai USD 5.200 per ounce pada akhir 2026. Sejalan dengan itu, Goldman Sachs bahkan menaikkan proyeksi harga emas dunia menjadi USD 5.400 per ounce pada Desember 2026. Bank investasi tersebut menilai kebutuhan lindung nilai terhadap risiko makro global kini bersifat lebih permanen.
Pembelian Bank Sentral Menjadi Penopang Kuat Harga Emas
Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral global rata-rata mencapai sekitar 60 ton per bulan, jauh di atas rata-rata sebelum 2022. Bank sentral di negara berkembang terus mengalihkan cadangan devisanya ke emas untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang utama.
Kondisi ini dinilai akan menjaga permintaan emas tetap tinggi hingga 2026, terutama di tengah kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal dan arah kebijakan ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
