Lonjakan Harga Emas Menggerakkan Aktivitas Pedagang Emas Patahan di Jakarta
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Jakarta – Lonjakan harga emas dunia yang terus mencetak rekor tertinggi membawa dampak nyata hingga ke tingkat akar rumput. Di balik grafik harga yang menanjak, para pedagang emas patahan di Jakarta tetap berupaya memanfaatkan momentum untuk menjaga perputaran usaha mereka di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Indah, seorang penadah emas di Jakarta Selatan, tetap membuka lapaknya meski hujan deras mengguyur ibu kota. Ia mengaku setiap hari masih ada warga yang datang menjual perhiasan emas, meski jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya. Perhiasan yang dijual umumnya berupa cincin, gelang, atau anting yang sudah patah atau rusak. Aktivitas ini tetap memberikan pemasukan, sekaligus menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan dana cepat.
Masyarakat Muda Memilih Menyimpan Emas untuk Investasi Jangka Panjang
Di sisi lain, tingginya harga emas tidak selalu mendorong masyarakat untuk menjual. Via, perempuan berusia 21 tahun, justru memilih mempertahankan emas miliknya. Ia menyadari harga emas sedang tinggi, namun memandang emas sebagai investasi jangka panjang yang relatif aman. Pengalaman menjual emas sebelumnya memberinya keyakinan bahwa logam mulia tetap mampu menjaga nilai dalam jangka waktu panjang.
Pandangan serupa juga ditemui di kalangan pembeli emas ritel. Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa transaksi pembelian masih lebih dominan dibanding penjualan, meski volume transaksi tidak terlalu besar. Emas dinilai tetap menarik sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Kenaikan Harga Emas Dipicu Gejolak Global dan Kebijakan Moneter
Harga emas nasional terus bergerak sejalan dengan lonjakan harga global. Sepanjang 2025, harga emas Antam melonjak signifikan dari Rp1.524.000 per gram pada awal tahun menjadi Rp2.501.000 per gram di akhir tahun. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, kebijakan moneter Amerika Serikat, serta kekhawatiran terhadap perang dagang.
Presiden Direktur Doo Financial Futures sekaligus analis emas, Ariston Tjendra, menilai pasar merespons risiko global dengan mengalihkan dana ke aset aman seperti emas. Ia memproyeksikan tren kenaikan harga emas masih berlanjut dan berpeluang menyentuh USD 5.000 per troy ounce dalam waktu dekat.
Kenaikan Harga Membuka Peluang Baru bagi Pengumpul Emas Patahan
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai kondisi ini membawa peluang tersendiri bagi pengumpul emas patahan. Menurutnya, kenaikan harga emas dapat menjadi sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat jika dimanfaatkan dengan perspektif investasi jangka menengah hingga panjang.
Ia juga menilai pemerintah tidak perlu melakukan intervensi berlebihan terhadap aktivitas jual beli emas patahan. Selama perputaran ekonomi berjalan dan masyarakat mampu memanfaatkan peluang secara mandiri, aktivitas tersebut dinilai tetap sehat bagi perekonomian keluarga.
