Harga Emas Dunia Menembus Rekor USD 5.000 dan Menguat di Tengah Tekanan Global
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
Jakarta – Harga emas dunia mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026. Logam mulia ini menembus level psikologis USD 5.000 per troy ounce di pasar spot dan menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Harga emas dunia terus melanjutkan tren penguatan karena investor global memburu aset aman saat risiko geopolitik dan fiskal meningkat. Data perdagangan menunjukkan harga emas spot naik sekitar 1,2 persen dan bergerak di kisaran USD 5.042 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk Februari diperdagangkan di sekitar USD 5.036 per troy ounce.
Ketegangan Geopolitik Global Mendorong Permintaan Safe Haven
Kenaikan harga emas dunia terjadi seiring munculnya titik-titik konflik baru di berbagai kawasan, mulai dari Greenland, Venezuela, hingga Timur Tengah. Kondisi tersebut meningkatkan persepsi risiko global dan mendorong investor mengalihkan aset ke emas sebagai pelindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik.
Lembaga keuangan HSBC menilai dinamika geoekonomi global, termasuk isu yang melibatkan Greenland, berperan besar dalam memperkuat harga emas dan perak dalam beberapa pekan terakhir. Sentimen ini membuat emas semakin diminati di tengah pasar keuangan yang bergejolak.
Permintaan Institusional dan Ritel Menopang Kenaikan Harga Emas
Analis Union Bancaire Privée menilai kenaikan harga emas dunia juga ditopang oleh permintaan berkelanjutan dari investor institusional dan ritel. Bank tersebut memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai USD 5.200 per troy ounce pada akhir 2026, seiring kuatnya pembelian dari bank sentral dan investor global.
Goldman Sachs mencatat basis permintaan emas kini semakin meluas. Kepemilikan ETF emas di negara-negara Barat meningkat signifikan sejak awal 2025, sementara pembelian fisik oleh keluarga kaya dan investor besar turut memperkuat permintaan.
Bank Sentral Global Terus Meningkatkan Pembelian Emas
Goldman Sachs juga menyoroti peran bank sentral dalam menopang harga emas dunia. Pembelian emas oleh bank sentral negara berkembang kini diperkirakan mencapai rata-rata 60 ton per bulan, jauh di atas rata-rata sebelum 2022. Strategi ini dilakukan untuk mendiversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran terhadap inflasi global semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset penyimpan nilai jangka panjang.
