Harga Emas Dunia Menembus Rekor USD 5.000 karena Investor Memburu Aset Aman
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
Harga emas dunia kembali mencetak sejarah baru pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026. Logam mulia ini menembus level USD 5.000 per troy ounce di pasar spot seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global. Kenaikan ini menegaskan posisi emas sebagai instrumen lindung nilai yang paling diburu investor saat risiko global meningkat.
Mengutip CNBC, harga emas dunia sempat menyentuh USD 5.033,99 per ounce pada pukul 07.52 waktu Singapura. Lonjakan harga tersebut terjadi ketika pelaku pasar global mengalihkan dana dari aset berisiko menuju emas, menyusul memanasnya isu geopolitik dan ketegangan perdagangan internasional.
Ketegangan Geopolitik Mendorong Investor Mengalihkan Dana ke Emas
Sentimen geopolitik kembali memegang peranan penting dalam reli harga emas. Pernyataan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, terkait hubungan dagang dengan China memicu kekhawatiran baru di pasar. Kanada menegaskan tidak akan mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan China tanpa pemberitahuan, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam pengenaan tarif 100 persen.
Situasi tersebut memperkuat persepsi risiko global dan mendorong investor mencari aset yang dinilai lebih aman. Kondisi ini membuat emas menjadi pilihan utama, terutama ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan China dinilai belum akan mereda dalam waktu dekat.
Analis Memproyeksikan Tren Kenaikan Emas Masih Berlanjut
Optimisme terhadap pergerakan harga emas juga tercermin dari pandangan para analis. Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan, menilai tren kenaikan emas masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Ia menekankan bahwa tekanan geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral, serta valuasi aset berisiko yang tinggi masih mendukung penguatan harga emas.
Analis Forex.com, James Stanley, juga menilai belum ada sinyal kuat yang menunjukkan pembeli emas mulai melemah. Menurutnya, meskipun level USD 5.000 berpotensi menjadi area konsolidasi, reaksi pasar sebelumnya menunjukkan potensi kenaikan lanjutan masih terbuka.
Pelemahan Dolar AS Memperkuat Fundamental Kenaikan Harga Emas
Chief Market Strategist SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, menyoroti pelemahan dolar AS sebagai faktor fundamental utama di balik reli emas. Ia menilai dolar AS telah melemah secara konsisten selama hampir satu tahun terakhir, dan tren tersebut belum menunjukkan tanda pembalikan.
Dalam konteks tersebut, berbagai konflik geopolitik hanya berperan sebagai katalis jangka pendek. Secara struktural, persaingan global di era multipolar dan ketegangan antarnegara besar dinilai masih akan menopang permintaan emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Survei Kitco Menunjukkan Mayoritas Pasar Tetap Bullish
Hasil Survei Emas Mingguan Kitco News memperkuat sentimen positif terhadap emas. Dari 15 analis Wall Street yang berpartisipasi, 80 persen memproyeksikan harga emas akan melanjutkan kenaikan dan menembus level USD 5.000. Sementara itu, investor ritel juga masih didominasi pandangan bullish, meskipun mulai bersikap lebih berhati-hati setelah lonjakan tajam pekan ini.
