Goldman Sachs Memprediksi Harga Emas Melonjak ke Level Tak Terduga pada 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3975041/original/057738200_1648205649-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-6.jpg)
Harga emas global diprediksi melesat ke level yang semakin tinggi pada 2026 seiring meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai. Bank investasi Goldman Sachs secara resmi menaikkan target harga emas hingga USD 5.400 per ounce, mencerminkan perubahan besar dalam strategi investasi global di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi dunia.
Liputan6.com, Jakarta — Goldman Sachs mengerek proyeksi harga emas tahun 2026 setelah mencermati pergeseran perilaku investor sektor swasta yang semakin agresif mendiversifikasi portofolio. Ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter global mendorong emas kembali menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai kekayaan.
Goldman Sachs Merevisi Target Harga Emas Secara Signifikan
Mengutip Kitco.com pada Senin, 26 Januari 2026, Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir 2026 dari USD 4.900 menjadi USD 5.400 per ounce. Revisi ini tergolong signifikan karena dilakukan hanya berselang beberapa pekan dari proyeksi sebelumnya.
Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven dan Lina Thomas menilai perubahan ini didorong oleh pandangan fundamental yang semakin kuat terhadap peran emas dalam jangka menengah. Investor swasta kini mengikuti langkah bank sentral yang lebih dulu mengalihkan cadangan ke emas sebagai aset aman.
Investor Menjadikan Emas Lindung Nilai Jangka Panjang
Goldman Sachs menegaskan bahwa pembelian emas saat ini tidak lagi bersifat sementara. Berbeda dengan strategi lindung nilai berbasis peristiwa jangka pendek seperti pemilu, posisi emas kini dipertahankan sebagai perlindungan struktural terhadap risiko makroekonomi global.
Kondisi tersebut membuat permintaan emas tidak semata bergantung pada sentimen harian pasar. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal, stabilitas kebijakan ekonomi, serta dinamika geopolitik global menjadi penopang utama minat jangka panjang terhadap logam mulia.
Bank Sentral Negara Berkembang Terus Mendorong Permintaan
Goldman Sachs memperkirakan bank sentral negara berkembang akan tetap menjadi motor utama permintaan emas pada 2026. Pembelian emas diproyeksikan berada di kisaran 60 hingga 70 ton per bulan, jauh melampaui rata-rata sebelum 2022.
Langkah ini dipandang sebagai respons atas meningkatnya risiko geopolitik global. Pembekuan cadangan Rusia pada 2022 disebut sebagai titik balik yang mendorong negara berkembang memperkuat cadangan emas demi keamanan aset nasional.
Pelonggaran Kebijakan The Fed Menguatkan Daya Tarik Emas
Dari sisi kebijakan moneter, Goldman Sachs memproyeksikan Federal Reserve akan memangkas suku bunga tambahan sebesar 50 basis poin pada 2026. Pelonggaran ini diperkirakan semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset non-bunga.
Goldman Sachs bahkan menyebut emas sebagai aset paling prospektif di antara seluruh komoditas global. Dengan porsi emas dalam portofolio keuangan swasta Amerika Serikat yang masih rendah, setiap peningkatan alokasi dinilai berpotensi mendorong harga emas ke level yang semakin tak terduga.
