Emas Perhiasan Dorong Inflasi Tahunan Januari 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5295262/original/098760000_1753431699-Gemini_Generated_Image_mluj6mluj6mluj6m.jpg)
BPS catat emas perhiasan memberi andil dominan terhadap inflasi
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan indeks harga konsumen (IHK). Tekanan inflasi ini muncul selain dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang juga mencatat andil signifikan.
Ateng menjelaskan, pergerakan harga emas yang cenderung naik ikut mendorong inflasi di awal 2026. Inflasi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga tercatat 11,93 persen, memberikan kontribusi sebesar 1,73 persen terhadap inflasi tahunan. Komoditas listrik tercatat sebagai penyumbang terbesar di kelompok tersebut.
Inflasi tinggi dipengaruhi low base effect dari diskon listrik tahun sebelumnya
Ateng menuturkan, inflasi tahunan Januari 2026 terdorong efek basis rendah (low base effect) akibat kebijakan pemerintah yang memberikan diskon tarif listrik pada Januari dan Februari 2025. Kebijakan tersebut menekan IHK dan bahkan menyebabkan deflasi pada awal 2025, sehingga level harga saat itu berada di bawah tren normal. Kondisi ini menjadi dasar perhitungan inflasi year on year pada Januari 2026.
Indonesia catat deflasi bulanan Januari 2026
Selain inflasi tahunan, BPS mencatat deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan pada Januari 2026. Penurunan IHK dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026 menandai deflasi tersebut. Ateng menambahkan, komoditas yang dominan mendorong deflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Cabai merah memberikan andil deflasi terbesar sebesar 0,16 persen, diikuti cabai rawit 0,08 persen, bawang merah 0,07 persen, daging ayam 0,05 persen, dan telur ayam 0,03 persen.
Kondisi ini menunjukkan dinamika harga konsumen Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Emas perhiasan tetap menjadi komoditas utama yang mendorong inflasi tahunan, sementara kelompok pangan memberi andil deflasi bulanan. Para pengamat menilai, pengendalian harga dan pemantauan komoditas strategis tetap penting untuk menjaga stabilitas ekonomi.
