Harga Emas Antam Turun Tajam Rp 183.000 pada 3 Februari 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532289/original/028365400_1628161488-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-4.jpg)
Antam catat harga emas per gram turun signifikan
Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat penurunan harga emas pada perdagangan Selasa, 3 Februari 2026. Harga emas Antam anjlok sebesar Rp 183.000 per gram, menurun dari Rp 3.027.000 menjadi Rp 2.844.000 per gram. Sementara itu, harga buyback emas Antam hanya turun Rp 9.000 menjadi Rp 2.624.000 per gram, menunjukkan perbedaan tekanan pasar terhadap jual beli emas.
Pergerakan harga ini terjadi setelah harga emas Antam mencetak rekor tertinggi pada 29 Januari 2026, mencapai Rp 3.168.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.989.000 per gram. Penurunan harga dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan sentimen investor terhadap logam mulia. Informasi resmi mengenai harga emas Antam bersumber dari situs Logam Mulia, unit bisnis Antam, sehingga data ini terjamin akurasi dan kredibilitasnya.
Penurunan harga emas dunia ikut tekan harga Antam
Harga emas dunia juga melemah pada awal pekan ini, melanjutkan tekanan setelah aksi jual besar pada akhir pekan lalu. Harga emas spot turun lebih dari 4% ke level USD 4.662,43 per ons, sementara kontrak berjangka emas tertekan sekitar 1% ke USD 4.694,60 per ons. Penurunan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS dan perubahan sentimen pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
CMC Markets menilai koreksi harga emas bersifat teknikal dan wajar setelah reli yang luar biasa pekan sebelumnya. Analis Christopher Forbes menekankan bahwa penurunan ini merupakan aksi ambil untung dan bukan sinyal perubahan tren jangka panjang.
Penguatan dolar AS dan ketatnya prospek moneter tekan minat beli
Forbes menambahkan, penguatan dolar AS sekitar 0,8% sejak Kamis lalu membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar kurang menarik bagi investor global. Selain itu, prospek kebijakan moneter AS yang lebih ketat meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil. Di tengah kondisi ini, harga emas diperkirakan tetap tinggi namun bergerak volatil sembari pasar menunggu kepastian arah kebijakan The Fed.
