Harga Emas Mencetak Rekor 70 Persen dan Permintaan Global Tembus 5.000 Ton pada 2025
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5492769/original/052511900_1770184620-IMG_4404.jpeg)
World Gold Council catat lonjakan harga emas sepanjang 2025
Jakarta – World Gold Council melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025, harga emas melonjak hingga 70 persen, mencetak rekor tertinggi dalam sejarah. Kenaikan ini menegaskan minat investor yang kuat terhadap logam mulia sebagai aset strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global. Shaokai Fan, Head of Asia Pacific (ex China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, menyatakan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/2/2026), bahwa harga emas mencapai level tertinggi sepanjang masa dan menjadi sorotan pasar internasional.
Permintaan emas global tembus lebih dari 5.000 ton
Selain kenaikan harga, permintaan emas global juga memecahkan rekor dengan konsumsi melebihi 5.000 ton pada 2025. Fakta ini menunjukkan bahwa investor tidak menjual emas meski harganya melonjak, melainkan memanfaatkan logam mulia sebagai bagian penting portofolio mereka. Shaokai Fan menekankan bahwa investor semakin menganggap emas sebagai komponen strategis untuk menghadapi risiko geopolitik, inflasi, dan kebijakan moneter yang tidak menentu.
Harga emas dan perak pulih pasca aksi jual besar-besaran
Pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta), harga emas spot naik sekitar 5,6% menjadi USD 4.930,97 per ons, sementara harga emas di Amerika Serikat naik sekitar 6,4% ke USD 4.949 per ons. Perak mencatat kenaikan lebih tajam dengan harga spot menembus USD 84,29 per ons dan kontrak berjangka naik hampir 10% ke USD 84,12. Pemulihan ini mengikuti penurunan signifikan pada hari sebelumnya yang mencapai hampir 10% untuk emas dan 30% untuk perak, menandai kinerja terburuk satu hari bagi logam mulia sejak tahun 1980.
Deutsche Bank dan Barclays tegaskan prospek investasi logam mulia tetap positif
Para analis di Deutsche Bank menilai aksi jual bersifat sementara, sementara minat investor terhadap logam mulia tetap tinggi. Barclays menambahkan bahwa kondisi teknis yang terlalu panas tidak menurunkan permintaan emas, karena investor tetap memandang logam mulia sebagai lindung nilai yang efektif. Pergerakan perak yang lebih fluktuatif disebabkan oleh pasar yang lebih kecil dan partisipasi ritel lebih tinggi, namun permintaan industri untuk perak, terutama sektor energi surya dan teknologi AI, tetap kuat dan mendukung tren bullish jangka panjang.
