Runtuhnya Platform Emas Digital di China Dorong Indonesia Waspada
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5193191/original/057789900_1745215516-WhatsApp_Image_2025-04-20_at_3.24.55_PM.jpeg)
Insiden di China menyorot keamanan emas digital global
Jakarta – Runtuhnya salah satu platform emas digital di China akhir-akhir ini menarik perhatian pasar global. Kasus ini memicu kekhawatiran soal keamanan, transparansi, dan tata kelola perdagangan emas digital di tengah percepatan digitalisasi aset di berbagai negara. Shaokai Fan, Head of Asia Pacific (ex China) sekaligus Global Head of Central Banks World Gold Council, menekankan bahwa insiden tersebut tidak menghentikan perkembangan emas digital secara global.
Minat masyarakat terhadap emas digital tetap meningkat
Shaokai Fan menyatakan minat masyarakat terhadap emas digital justru terus bertambah. Tren ini terlihat dari semakin banyaknya operator, penyedia layanan, hingga perusahaan teknologi yang masuk ke perdagangan emas berbasis digital. Ia mencontohkan Pegadaian yang telah menyediakan layanan emas digital di Indonesia, memperluas akses masyarakat terhadap aset ini.
Perusahaan teknologi memperluas suplai emas digital
Fan menjelaskan masuknya perusahaan teknologi ke sektor emas digital turut menambah variasi produk dan memperluas suplai di pasar. Tren ini mendorong pertumbuhan transaksi dan meningkatkan minat pembeli, menandakan pasar emas digital global terus berkembang meski menghadapi risiko kegagalan platform.
Regulasi menjadi kunci keberlanjutan emas digital
Meski prospek positif, Fan menegaskan bahwa pertumbuhan emas digital harus diiringi regulasi yang jelas dan kepemilikan aset dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Produk emas digital harus didukung oleh emas fisik yang valid dan mekanisme audit yang ketat. Ia menekankan bahwa kerangka regulasi yang kuat menjadi kunci utama mencegah risiko kolaps seperti yang terjadi di China.
Indonesia menyiapkan fondasi kuat untuk emas digital
Di Indonesia, perdagangan emas digital memiliki prospek menjanjikan pada 2026. Kehadiran Pegadaian dan dukungan institusi lain yang mengombinasikan emas fisik dan digital menjadi fondasi awal yang relatif kokoh. Shaokai Fan menekankan pembelajaran dari kasus China penting untuk memastikan regulasi komprehensif, mulai dari pelaporan kepemilikan, mekanisme penyimpanan, hingga kewajiban audit berkala.
