Pegadaian Kelola 136 Ton Emas dengan Nilai Rp 400 Triliun
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495675/original/075749200_1770391691-1000227415.jpg)
Pegadaian catat kelolaan emas lebih tinggi dari cadangan Bank Indonesia
Jakarta – PT Pegadaian mengumumkan perusahaan berhasil mengelola emas dalam ekosistemnya mencapai 136 ton dengan nilai sekitar Rp 400 triliun. Jumlah ini disebut lebih tinggi dari cadangan emas Bank Indonesia yang tercatat sebesar 80,44 ton per Oktober 2025. Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis Pegadaian, Ferdian Timur Satyagraha, menjelaskan angka tersebut berasal dari berbagai produk emas yang ditawarkan perusahaan, mulai dari bullion, tabungan emas, deposito emas, hingga jasa titipan dan cicilan emas.
Pegadaian perinci kelolaan emas berdasarkan produk
Ferdian menyebutkan bullion Pegadaian mencapai 33,72 ton setara Rp 74,06 triliun, sementara tabungan emas mencatat 17,1 ton atau Rp 39,7 triliun. Deposito emas tercatat 2,18 ton setara Rp 5,1 triliun, Pinjaman Modal Kerja Emas 570 kilogram senilai Rp 1,07 triliun, dan perdagangan bullion mencapai 10,77 ton senilai Rp 20,99 triliun. Layanan Jasa Titipan Emas Korporasi mencatat 3,1 ton atau Rp 7,2 triliun, sedangkan produk cicilan emas yang baru dikembangkan dalam dua tahun terakhir sudah menembus Rp 19 triliun dengan total 10,3 ton emas.
Harga emas Pegadaian tetap stabil per Februari 2026
Harga emas buatan UBS dan Galeri24 di Pegadaian pada Jumat, 6 Februari 2026, pukul 08.11 WIB, tercatat stabil. Emas UBS dijual Rp 2.988.000 per gram, sedangkan Galeri24 Rp 2.974.000 per gram. Produk ini tersedia dalam berbagai kuantitas mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram untuk Galeri24 dan hingga 500 gram untuk UBS. Pegadaian menyesuaikan harga secara berkala mengikuti kondisi pasar dan nilai tukar.
Harga emas global pulih dari koreksi tajam
Kenaikan harga emas dan perak di pasar internasional juga mendukung kelolaan Pegadaian. Pada 4 Februari 2026, harga emas spot naik 2,4% menjadi USD 5.054,6 per ounce, sementara perak spot melonjak 5,8% menjadi USD 90 per ounce. Pemulihan ini terjadi setelah emas dan perak mengalami koreksi tajam pekan sebelumnya, akibat volatilitas pasar dan penguatan dolar AS. Analis menilai tren kenaikan logam mulia akan tetap dipengaruhi oleh pergerakan dolar, ekspektasi suku bunga, dan sentimen risiko global, mendorong investor mengalokasikan dana ke logam mulia sebagai aset aman.
