Harga Emas Dunia Melemah dan Berpotensi Turun ke Level USD 4.960
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
Pasar Mendorong Harga Emas Turun di Tengah Penguatan Dolar AS
Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, seiring penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global. Pada awal sesi Asia, harga emas spot (XAU/USD) bergerak turun ke kisaran USD 5.075 setelah sebelumnya sempat menguat pada akhir pekan di sesi Amerika Utara.
Sebelumnya, harga emas sempat terdorong naik akibat data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memicu sentimen penghindaran risiko yang sempat menopang harga logam mulia.
Namun, tekanan kembali muncul ketika dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat meningkat. Kondisi ini membuat pergerakan emas tertahan dan cenderung melemah dalam jangka pendek.
Analis Menilai Tekanan Bearish Masih Mendominasi Pergerakan Emas
Analis dari Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai pergerakan emas masih menunjukkan kecenderungan bearish dalam kerangka waktu jangka pendek. Ia menjelaskan bahwa kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average memperlihatkan dominasi tekanan jual di pasar.
Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang lanjutan penurunan harga apabila tidak ada sentimen kuat yang mampu mendorong pemulihan dalam waktu dekat. Dengan demikian, pasar masih berada dalam fase tekanan yang cukup signifikan.
Investor Mencermati Inflasi dan Kebijakan Federal Reserve sebagai Penentu Arah
Selain faktor teknikal, pelaku pasar juga terus memantau perkembangan fundamental yang memengaruhi harga emas. Lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Suku bunga tinggi biasanya menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Akibatnya, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang menawarkan keuntungan lebih menarik.
Di sisi lain, pasar juga menantikan rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini. Data tersebut akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.
Data Tenaga Kerja AS Memberi Dukungan Sementara bagi Harga Emas
Data Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi Amerika Serikat kehilangan sekitar 92.000 pekerjaan pada Februari, jauh dari ekspektasi pasar. Selain itu, tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,4 persen dari sebelumnya 4,3 persen.
Kondisi ini sempat memberikan dorongan bagi harga emas karena berpotensi melemahkan dolar AS. Meski demikian, penguatan imbal hasil obligasi dan dolar tetap menjadi faktor dominan yang menekan harga emas secara keseluruhan.
Dalam perhitungan mingguan, harga emas diperkirakan mengalami penurunan mendekati 2,5 persen, mencerminkan tekanan yang cukup kuat di pasar global.
Analis Memproyeksikan Level Support USD 4.960 sebagai Batas Penting
Andy Nugraha memproyeksikan harga emas berpotensi turun menuju level support di USD 4.960 jika tekanan bearish terus berlanjut. Sementara itu, apabila terjadi koreksi naik, level resistance terdekat diperkirakan berada di sekitar USD 5.139.
Proyeksi ini menunjukkan bahwa pergerakan emas masih berada dalam rentang tekanan dengan potensi volatilitas tinggi. Oleh karena itu, investor perlu mencermati perkembangan data ekonomi global dan kebijakan moneter sebagai faktor utama yang memengaruhi arah harga emas.
