JPMorgan Ungkap Perbedaan Tajam Arus Dana ETF Bitcoin dan Emas Sejak Perang Iran
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4674211/original/014291300_1701747020-aleksi-raisa-DCCt1CQT8Os-unsplash.jpg)
JPMorgan Menyoroti Pergeseran Aliran Dana Antara ETF Bitcoin dan Emas
Analis JPMorgan mengungkap perbedaan signifikan dalam aliran dana Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin dan emas sejak pecahnya konflik Iran pada akhir Februari 2026. Mereka menilai pergeseran ini mencerminkan perubahan preferensi investor terhadap dua aset tersebut.
ETF emas terbesar, SPDR Gold Shares (GLD), mencatat arus keluar sekitar 2,7 persen dari total aset kelolaan sejak konflik dimulai. Sebaliknya, ETF Bitcoin spot terbesar, iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock, justru membukukan arus masuk sekitar 1,5 persen dalam periode yang sama.
Perubahan ini sekaligus membalikkan dominasi ETF emas atas ETF Bitcoin yang sebelumnya terjadi sepanjang 2025. Meski demikian, kinerja ETF emas pada kuartal IV 2025 masih tetap lebih unggul dibandingkan Bitcoin.
Investor Ritel Mendorong Rotasi Dana dari Bitcoin ke Emas Sejak 2025
Analis JPMorgan menjelaskan bahwa sejak Oktober 2025 telah terjadi rotasi dana dari Bitcoin ke emas, terutama didorong oleh investor ritel. Dalam periode tersebut, IBIT mengalami arus keluar besar, sementara GLD justru menarik minat investasi yang kuat.
Namun, jika dilihat dalam jangka panjang, ETF Bitcoin masih mencatat kinerja lebih tinggi. Total arus masuk IBIT sejak 2024 tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan GLD.
Selain itu, aset yang dikelola IBIT sempat mendekati GLD pada Juli tahun lalu sebelum kembali melebar akibat koreksi harga Bitcoin sejak Oktober 2025.
Investor Institusional Mengurangi Eksposur Bitcoin dalam Jangka Pendek
Dalam beberapa bulan terakhir, analis mencatat perubahan sikap investor institusional terhadap Bitcoin. Minat jual jangka pendek pada IBIT meningkat, sementara tekanan jual pada GLD justru menurun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hedge fund dan investor besar mulai mengurangi eksposur terhadap Bitcoin dan beralih ke emas sebagai aset yang dianggap lebih stabil. Meski begitu, tingkat short interest pada IBIT masih relatif lebih rendah dibandingkan GLD karena sejarah emas yang lebih panjang dan penerimaan institusional yang lebih luas.
Aktivitas Opsi Menunjukkan Investor Meningkatkan Perlindungan Risiko Bitcoin
Selain itu, aktivitas opsi turut memperlihatkan perubahan strategi investor. Rasio open interest put-to-call pada IBIT tercatat lebih tinggi dibandingkan GLD sejak November lalu.
Hal ini menandakan investor membeli lebih banyak opsi put sebagai perlindungan terhadap potensi penurunan harga Bitcoin. Tren tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan lindung nilai di tengah volatilitas pasar kripto.
Para analis menilai peningkatan penggunaan instrumen derivatif ini mencerminkan perkembangan struktur pasar Bitcoin, dari sekadar spekulasi arah harga menjadi strategi investasi yang lebih kompleks.
Indikator Pasar Menunjukkan Volatilitas Emas Meningkat Lebih Cepat
Meski emas terlihat lebih diminati dalam jangka pendek, indikator pasar menunjukkan dinamika yang berbeda. Volatilitas tersirat pada opsi GLD meningkat lebih tajam dibandingkan IBIT, menandakan ekspektasi fluktuasi harga emas yang lebih besar.
Di sisi lain, likuiditas pasar ETF emas juga menunjukkan pelemahan. Rasio Hui-Heubel yang meningkat mengindikasikan partisipasi pasar yang menurun.
Sementara itu, volatilitas Bitcoin justru menunjukkan tanda penurunan, yang mencerminkan meningkatnya kepemilikan institusional dan likuiditas pasar yang semakin kuat.
JPMorgan tetap mempertahankan pandangan positif terhadap kripto sepanjang tahun ini. Mereka bahkan menargetkan harga Bitcoin jangka panjang mencapai USD 266.000, didasarkan pada perbandingan nilai dengan emas yang telah disesuaikan dengan tingkat volatilitas.
