Bitcoin Ungguli Saham dan Emas Sejak Konflik Iran, Analis Soroti Peran Kripto sebagai Diversifikasi
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
Bitcoin kembali menunjukkan penguatan di tengah ketidakpastian pasar global setelah konflik Iran memicu gejolak pada berbagai kelas aset. Mata uang kripto terbesar di dunia ini bahkan mampu mencatat kinerja lebih baik dibandingkan sejumlah indeks saham utama dan emas sejak konflik tersebut dimulai.
Analis menilai kondisi ini memperlihatkan bahwa bitcoin mulai memainkan peran penting sebagai instrumen diversifikasi portofolio ketika pasar menghadapi ketidakpastian geopolitik.
Analis Menilai Bitcoin Tetap Menarik di Tengah Tekanan Pasar Global
Strategi investasi global dari ProShares, Simeon Hyman, menilai bitcoin menunjukkan ketahanan yang cukup baik dibandingkan aset lain sejak konflik Iran memicu tekanan pada pasar saham.
Dalam program “ETF Edge” di CNBC, Hyman menyebut harga bitcoin justru mengalami sedikit kenaikan ketika sejumlah indeks saham mengalami pelemahan.
Ia menilai situasi tersebut memperkuat narasi bahwa bitcoin dapat berfungsi sebagai alat diversifikasi bagi investor ketika pasar menghadapi ketidakpastian tinggi. Oleh karena itu, sebagian investor mulai kembali melirik aset kripto sebagai alternatif investasi di tengah volatilitas global.
Data Pasar Menunjukkan Bitcoin Mengungguli Indeks Saham dan Emas
Data perdagangan hingga penutupan pasar Jumat menunjukkan bitcoin mencatat kenaikan sekitar 5 persen dalam sepekan terakhir. Sebagian besar penguatan tersebut bahkan terjadi hanya dalam waktu 24 jam.
Secara keseluruhan, bitcoin juga tercatat naik sekitar 8 persen sejak konflik Iran mulai memanas pada 28 Februari.
Sebaliknya, beberapa aset utama justru mengalami tekanan. Indeks S&P 500 dan harga emas tercatat turun lebih dari 3 persen sejak konflik tersebut dimulai. Sementara itu, indeks teknologi Nasdaq Composite juga melemah lebih dari 2 persen pada periode yang sama.
Perusahaan investasi ProShares sendiri dikenal aktif mengembangkan berbagai produk berbasis kripto. Pada bulan lalu, perusahaan tersebut meluncurkan ETF baru bernama ProShares CoinDesk 20 Crypto ETF (KRYP). Sejak konflik Iran terjadi, dana tersebut tercatat naik hampir 5 persen meski masih turun sekitar 7 persen sejak pertama kali diluncurkan pada awal Februari.
Analis Menilai Bitcoin Masih Berada dalam Siklus Crypto Winter
Meski mencatat penguatan dalam beberapa pekan terakhir, harga bitcoin sebenarnya masih jauh dari rekor tertingginya.
CEO dan pendiri Main Management, Kim Arthur, menilai kondisi ini merupakan bagian dari siklus alami pasar kripto yang dikenal sebagai crypto winter.
Ia menjelaskan bahwa siklus tersebut biasanya terjadi sekitar setiap empat tahun dalam industri kripto. Pada fase ini, harga aset digital cenderung mengalami koreksi besar sebelum akhirnya memasuki tahap pemulihan.
Saat ini bitcoin masih tercatat turun lebih dari 40 persen dari rekor tertinggi sekitar USD126.198 yang tercapai pada Oktober tahun lalu. Arthur menilai pasar kemungkinan sedang berada pada fase dasar sebelum potensi pemulihan selanjutnya terjadi.
Meski demikian, ia tetap melihat kinerja bitcoin cukup menarik jika dibandingkan dengan berbagai kelas aset lain sejak konflik Iran dimulai.
Manajer Investasi Mulai Menjadikan Bitcoin sebagai Tolok Ukur Portofolio
Dalam strategi investasinya, Arthur mengaku memilih pendekatan yang lebih pasif terhadap bitcoin. Ia bahkan mulai menjadikan bitcoin sebagai tolok ukur utama untuk menilai performa aset lain dalam portofolionya.
Menurutnya, pendekatan tersebut membantu investor membandingkan kinerja berbagai aset terhadap perkembangan pasar kripto.
Dalam lima tahun terakhir, bitcoin sendiri masih mencatat pertumbuhan sekitar 15 persen meskipun mengalami berbagai siklus volatilitas yang cukup tajam.
