Bitcoin Mengungguli Emas di Tengah Konflik Timur Tengah dan Picu Perdebatan Safe Haven
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495004/original/037328800_1770351475-bitcoin-jievani-weerasinghe-unsplash.jpg)
Pasar Menunjukkan Pergerakan Berbeda antara Bitcoin dan Emas
Jakarta – Pergerakan harga bitcoin dan emas selama konflik di Timur Tengah kembali memicu perdebatan mengenai status aset safe haven. Dalam beberapa waktu terakhir, bitcoin menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan emas, meski keduanya sama-sama mengalami fluktuasi tajam.
Pada awal konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran, harga bitcoin sempat merosot hingga USD 63.000. Di sisi lain, emas justru melonjak dan mencetak rekor tertinggi dengan menyentuh USD 5.414 per ounce pada 2 Maret 2026.
Namun, dinamika pasar kemudian berubah. Bitcoin sempat bertahan di atas USD 70.000 sebelum akhirnya turun kembali sekitar 4,92 persen dalam 24 jam ke level USD 66.099 pada 27 Maret 2026. Sementara itu, harga emas juga melemah sekitar 2,2 persen dan diperdagangkan di kisaran USD 4.439 per ounce.
Analis Menilai Pergerakan Dipicu Siklus Pasar dan Rotasi Aset
Pendiri GraniteShares, Will Rhind, menilai pergerakan bitcoin lebih dipengaruhi oleh siklus pasar dibandingkan faktor geopolitik. Ia melihat koreksi harga sebagai bagian dari fase alami setelah sebelumnya terjadi tekanan jual besar di level tinggi.
Di sisi lain, analis ETF Bloomberg Intelligence, Eric Balchunas, menyoroti adanya rotasi portofolio investor. Menurutnya, pelaku pasar memanfaatkan momentum dengan mengalihkan dana dari emas yang telah naik signifikan ke bitcoin yang sempat tertekan.
Balchunas juga menekankan peran arus dana ke produk ETF bitcoin yang mencapai sekitar USD 2,5 miliar dalam sebulan terakhir. Aliran dana ini turut memperkuat sentimen pasar terhadap aset kripto tersebut.
Pelaku Pasar Belum Menganggap Bitcoin Gantikan Emas sebagai Safe Haven
Meski bitcoin menunjukkan performa yang menarik, para analis sepakat bahwa aset kripto tersebut belum mampu menggantikan emas sebagai instrumen lindung nilai utama. Rhind menilai bitcoin masih membutuhkan tingkat kepercayaan yang lebih kuat untuk memperoleh status tersebut.
Balchunas bahkan menegaskan bahwa ia tidak melihat bitcoin sebagai lindung nilai saat terjadi gejolak geopolitik. Ia menganggap bitcoin lebih menyerupai aset berisiko yang kerap bergerak searah dengan pasar saham.
Sebaliknya, emas tetap mempertahankan posisinya sebagai aset safe haven yang telah teruji oleh waktu. Sejarah panjang emas menjadi faktor utama yang membuat investor tetap mempercayainya di tengah ketidakpastian global.
Investor Mengandalkan Diversifikasi untuk Mengelola Risiko
Di tengah perdebatan tersebut, para analis menekankan pentingnya diversifikasi dalam strategi investasi. Ketidakpastian korelasi antar aset membuat ketergantungan pada satu instrumen menjadi berisiko.
Balchunas menyebut emas sebagai alat diversifikasi yang baik meski tidak selalu konsisten sebagai lindung nilai. Sementara itu, bitcoin menawarkan eksposur berbeda yang dapat melengkapi portofolio investor.
Rhind menambahkan bahwa basis investor emas dan bitcoin cenderung berbeda, sehingga kombinasi keduanya dapat memberikan keseimbangan dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.
