Pemerintah Perkuat Ekosistem Bullion Nasional Setelah Setahun Bank Emas Berjalan
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523362/original/012242600_1772805994-publikasi_1772805295_69aadcaf9f23e.jpeg)
Pemerintah Evaluasi Setahun Implementasi Bank Emas dan Perkuat Ekosistem Nasional
Pemerintah bersama pemangku kepentingan sektor bullion memperingati satu tahun pelaksanaan kegiatan usaha bullion di Indonesia pada 6 Maret 2026 di Jakarta. Momentum ini mendorong pemerintah untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat ekosistem emas nasional agar semakin terintegrasi.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meluncurkan layanan Bank Emas Indonesia pada 26 Februari 2025. Pemerintah kemudian mengembangkan sistem ini untuk mengintegrasikan pengelolaan emas dari sektor hulu hingga hilir di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah perlu mengoptimalkan kegiatan usaha bullion agar mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.
Pemerintah Manfaatkan Kenaikan Harga Emas untuk Dorong Investasi
Pemerintah melihat kenaikan harga emas global sebagai peluang untuk mendorong minat investasi masyarakat. Kondisi ini muncul di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.
Airlangga menyatakan bahwa peningkatan harga emas dan bertambahnya volume emas yang dikelola mencerminkan meningkatnya literasi masyarakat dalam berinvestasi. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong pemanfaatan emas sebagai instrumen lindung nilai.
Pemerintah Jaga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Stabil
Di tengah penguatan sektor bullion, pemerintah juga mencatat kinerja ekonomi nasional yang tetap solid. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,39 persen secara tahunan.
Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 persen dan melampaui sebagian besar negara G20. Pemerintah kemudian menargetkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 berada di kisaran 5,5 persen.
Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah mengandalkan stimulus fiskal, termasuk belanja negara yang diperkirakan mencapai Rp809 triliun pada awal 2026. Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,4 hingga 5,6 persen.
Pemerintah Dorong Transformasi Ekonomi Menuju Target Jangka Menengah
Pemerintah menargetkan transformasi ekonomi jangka menengah dengan pertumbuhan hingga 8 persen pada 2029 sesuai RPJMN 2025–2029. Dalam upaya tersebut, penguatan ekosistem bullion menjadi salah satu strategi utama.
Kehadiran Bank Emas dinilai mampu mendorong hilirisasi emas sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Dengan demikian, sektor ini diharapkan dapat memperkuat struktur ekonomi nasional.
Pegadaian dan BSI Catat Lonjakan Nasabah dan Tabungan Emas
Perkembangan ekosistem bullion juga terlihat dari kinerja lembaga jasa keuangan. PT Pegadaian mencatat peningkatan jumlah nasabah dari 3,2 juta pada Februari 2025 menjadi 5,6 juta pada Februari 2026.
Selain itu, tabungan emas masyarakat meningkat dari 10,5 ton menjadi 19,25 ton. Secara keseluruhan, total kelolaan bisnis emas Pegadaian mencapai 147,8 ton, termasuk 94 ton dari captive gadai.
Di sisi lain, kegiatan usaha bullion Pegadaian mencapai 40,59 ton atau setara Rp102 triliun. Sementara itu, Bank Syariah Indonesia mencatat peningkatan total kelolaan emas dari 16,85 ton pada Januari 2025 menjadi 22,5 ton pada Februari 2026.
Jumlah nasabah tabungan emas BSI juga meningkat signifikan dari 531.329 menjadi 766.742 nasabah dalam periode yang sama.
Pemerintah Siapkan Roadmap untuk Perkuat Ekosistem Bullion Nasional
Untuk memperkuat pengembangan sektor ini, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan meluncurkan roadmap pengembangan dan penguatan kegiatan usaha serta ekosistem bullion periode 2026–2031.
Langkah ini diharapkan mampu memperdalam pasar keuangan sekaligus meningkatkan kontribusi sektor emas terhadap perekonomian nasional di masa depan.
