Harga Emas Antam Anjlok Rp 260.000 per Gram pada 31 Januari 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4805340/original/093907000_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_2.jpg)
Antam catat koreksi besar harga emas setelah rekor tertinggi pada 29 Januari
Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat penurunan harga emas batangan yang signifikan pada perdagangan Sabtu pagi, 31 Januari 2026. Penurunan ini mengikuti lonjakan harga emas yang sempat mencapai rekor tertinggi pada Kamis, 29 Januari 2026.
Antam turunkan harga emas ukuran 1 gram menjadi Rp 2.860.000
Harga emas Antam untuk ukuran 1 gram turun Rp 260.000 dari Rp 3.120.000 menjadi Rp 2.860.000 per gram. Penurunan ini juga tercermin pada harga buyback, yang melemah Rp 285.000 menjadi Rp 2.654.000 per gram. Data resmi ini diperoleh dari situs Logam Mulia, unit bisnis Antam, sehingga memberikan informasi yang akurat bagi publik dan investor.
Harga emas Antam beragam sesuai ukuran batangan
Selain ukuran 1 gram, Antam menjual emas batangan mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram. Emas 0,5 gram dipatok Rp 1.480.000, emas 2 gram Rp 5.660.000, dan emas 10 gram Rp 28.095.000. Emas 100 gram dan 1.000 gram masing-masing dihargai Rp 280.212.000 dan Rp 2.800.600.000. Penyesuaian harga ini menyesuaikan dengan kondisi pasar global dan permintaan investor domestik.
Penurunan emas Antam dipengaruhi gejolak pasar logam mulia dunia
Harga emas Antam melemah seiring penurunan harga emas dunia yang tajam pada perdagangan Jumat. Pengumuman pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve AS memicu penguatan dolar, sehingga menekan harga emas spot dunia sekitar 9% ke USD 4.895,22 per ons dan kontrak berjangka melemah 11,4% ke USD 4.745,10 per ons. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri dan mengurangi permintaan global.
Investor diimbau tetap cermat merespons fluktuasi harga emas
Meskipun terjadi koreksi signifikan, para investor disarankan untuk tidak bereaksi berlebihan. Penurunan ini merupakan respons pasar global terhadap kebijakan moneter AS, sementara faktor diversifikasi dan cadangan tetap menjadi pertimbangan utama dalam investasi emas di Indonesia.
