Harga Emas Dunia Turun Tertekan Penguatan Dolar AS dan Kekhawatiran Inflasi
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Penguatan Dolar AS Tekan Harga Emas di Pasar Global
Harga emas dunia melemah pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026 atau Kamis waktu Jakarta. Tekanan utama datang dari penguatan dolar Amerika Serikat yang membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Pada perdagangan tersebut, harga emas di pasar spot turun 0,4 persen menjadi USD 5.169,02 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga merosot 1,2 persen ke level USD 5.179,10 per ons.
Kenaikan indeks dolar AS sebesar 0,4 persen memperkuat tekanan terhadap emas. Kondisi ini membuat investor cenderung beralih ke aset lain yang dinilai lebih menguntungkan dalam jangka pendek.
Kenaikan Inflasi dan Suku Bunga Kurangi Daya Tarik Emas
Selain penguatan dolar, kekhawatiran terhadap inflasi turut memengaruhi pergerakan harga emas. Data menunjukkan indeks harga konsumen Amerika Serikat naik 0,3 persen pada Februari dan mencapai 2,4 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Akibatnya, emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.
Meski demikian, emas tetap berperan sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi. Namun dalam situasi suku bunga tinggi, minat investor terhadap logam mulia cenderung menurun.
Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak dan Picu Ketidakpastian
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memberikan sentimen campuran bagi pasar. Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz mendorong harga minyak melonjak hingga 4 persen.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Bahkan, Iran memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi menembus USD 200 per barel jika konflik terus berlanjut.
Lonjakan harga minyak berpotensi memicu inflasi lebih tinggi yang dalam jangka panjang dapat mendukung harga emas. Namun dalam jangka pendek, tekanan dari suku bunga tinggi masih lebih dominan.
Analis Prediksi Harga Emas Tetap Menguat dalam Jangka Panjang
Sejumlah analis tetap mempertahankan pandangan positif terhadap emas dalam jangka panjang. Mereka menilai penurunan harga saat ini merupakan bagian dari aksi ambil untung dan kebutuhan likuiditas pasar.
Analis Standard Chartered menyebutkan bahwa tekanan harga emas dapat berlangsung beberapa minggu. Namun, tren kenaikan diperkirakan kembali berlanjut setelah fase koreksi selesai.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lain juga mengalami tekanan. Harga perak turun 3,5 persen menjadi USD 85,34 per ons, platinum melemah 0,8 persen menjadi USD 2.183,10, dan paladium turun 1,4 persen ke USD 1.631,59.
Harga Emas Sempat Menguat Sehari Sebelumnya
Sebelumnya, harga emas sempat melonjak hampir 2 persen pada Selasa, 10 Maret 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh pelemahan dolar AS dan meredanya kekhawatiran inflasi.
Harga emas spot saat itu naik menjadi USD 5.231,79 per ons, sedangkan kontrak berjangka emas AS meningkat hingga USD 5.242,10 per ons.
Meski sempat menguat, kondisi di lapangan menunjukkan konflik di Timur Tengah belum mereda. Hal ini membuat pergerakan harga emas tetap dipengaruhi berbagai faktor global yang saling tarik menarik.
