Harga Emas Dunia Turun Dua Pekan Beruntun dan Terancam Melemah Lebih Dalam
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Pasar Global Menekan Harga Emas di Tengah Penguatan Dolar AS
Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat, 14 Maret 2026, dan memperpanjang tren penurunan selama dua pekan berturut-turut. Tekanan utama datang dari penguatan dolar Amerika Serikat yang membuat harga logam mulia semakin mahal bagi investor global.
Data perdagangan menunjukkan harga emas spot turun 0,5 persen menjadi USD 5.052,15 per ounce. Sepanjang pekan ini, harga emas telah terkoreksi lebih dari 2 persen. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup melemah 1,3 persen ke posisi USD 5.061,70 per ounce.
Kondisi ini mencerminkan tekanan yang konsisten di pasar logam mulia. Penguatan dolar yang mendekati level tertinggi dalam empat bulan terakhir mendorong investor menahan pembelian emas.
Pelaku Pasar Menilai Emas Masih Kuat Jangka Panjang Meski Tertekan
Meski mengalami tekanan jangka pendek, pelaku pasar masih melihat prospek emas tetap kuat dalam jangka panjang. Hal ini terutama didorong oleh kebutuhan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian global.
Namun demikian, pergerakan harga saat ini menunjukkan emas mendekati level terendah sejak konflik Iran mulai memanas. Situasi ini menandakan pasar masih sensitif terhadap perubahan kondisi geopolitik dan ekonomi global.
Selain itu, tekanan dari sisi mata uang terus menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan harga emas dalam waktu dekat.
Kebijakan Suku Bunga Tinggi Mengurangi Daya Tarik Investasi Emas
Ekspektasi kebijakan moneter yang tetap ketat turut memperburuk tekanan terhadap harga emas. Bank investasi Commerzbank menilai suku bunga tinggi mengurangi minat investor terhadap emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan konsumsi masyarakat masih kuat, sementara inflasi tetap bertahan. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan Federal Reserve belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Akibatnya, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen berbunga yang menawarkan keuntungan lebih tinggi dibandingkan emas.
Ketegangan Timur Tengah Memperkuat Ketidakpastian Pasar Global
Faktor geopolitik turut memperkeruh kondisi pasar. Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan rencana serangan terhadap Iran dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi dan keuangan global. Meski harga minyak sempat melemah, gangguan pasokan di kawasan Teluk tetap menjaga tren kenaikan mingguan.
Di sisi lain, aktivitas logistik mulai menunjukkan perbaikan. Sejumlah penerbangan dari Dubai kembali beroperasi sehingga distribusi emas global mulai berjalan kembali secara bertahap.
Penurunan Harga Juga Menyeret Logam Mulia Lainnya
Penurunan harga tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga merambat ke logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 3,3 persen menjadi USD 81,00 per ounce.
Selain itu, platinum melemah 4 persen ke level USD 2.047,20, sementara palladium turun 2,5 persen menjadi USD 1.569,00 per ounce. Kedua logam tersebut juga diperkirakan mencatat penurunan sepanjang pekan ini.
Tren pelemahan ini menunjukkan tekanan yang meluas di pasar komoditas logam mulia akibat kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik.
