Harga Emas Dunia Naik Dua Hari Beruntun di Tengah Konflik Timur Tengah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Konflik Timur Tengah Mendorong Permintaan Safe Haven dan Mengangkat Harga Emas
Jakarta – Harga emas dunia kembali menguat selama dua hari berturut-turut pada perdagangan awal pekan. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Mengutip laporan pasar pada Selasa, 31 Maret 2026, harga emas spot naik 0,5 persen ke level USD 4.513,54 per ounce. Sebelumnya, harga sempat menyentuh titik terendah sejak awal November pada pekan lalu. Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April melonjak USD 115,30 dan ditutup di posisi USD 4.524,30 per ounce.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai konflik geopolitik menjadi faktor utama yang menggerakkan harga emas. Ia menegaskan bahwa perang yang masih berlangsung tanpa kepastian mendorong investor beralih ke aset lindung nilai.
Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel dan menyatakan akan membalas agresi. Di sisi lain, Israel terus melancarkan serangan ke Teheran. Kondisi ini memperbesar ketidakpastian global dan memperkuat permintaan terhadap emas.
Tekanan Inflasi dan Suku Bunga Menahan Kinerja Bulanan Emas
Meski mencatat penguatan harian, harga emas justru berada dalam tren penurunan secara bulanan. Sepanjang Maret 2026, harga emas tercatat merosot lebih dari 13 persen, menjadikannya penurunan bulanan terdalam sejak 2008.
Tekanan ini muncul akibat lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi global. Situasi tersebut mendorong pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga yang diperkirakan tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung kurang menarik ketika suku bunga meningkat. Oleh karena itu, meskipun konflik geopolitik mendukung harga, tekanan dari kebijakan moneter tetap membatasi penguatan emas.
Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat dalam pekan ini. Data seperti lowongan kerja, penjualan ritel, laporan ketenagakerjaan ADP, hingga nonfarm payrolls akan menjadi acuan dalam menentukan arah kebijakan suku bunga dan pergerakan harga emas ke depan.
