Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 10% Setelah Pasar Respon Penunjukan Ketua The Fed
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Investor jual besar-besaran setelah Kevin Warsh dicalonkan sebagai Ketua The Fed
Jakarta – Harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Jumat, 31 Januari 2026, setelah pasar merespons pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya oleh Presiden Donald Trump. Sentimen ini menenangkan kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral AS dan mendorong penguatan dolar secara signifikan.
Emas spot jatuh ke level USD 4.895,22 per ons
Harga emas spot turun sekitar 9% ke posisi USD 4.895,22 per ons. Kontrak berjangka emas untuk pengiriman Februari juga menutup perdagangan melemah 11,4% ke USD 4.745,10 per ons. Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi ambil untung investor setelah reli panjang emas sebelumnya dan laporan pencalonan Warsh menyebar luas di pasar.
Penguatan dolar memperberat tekanan terhadap harga emas
Penguatan dolar AS menekan permintaan emas karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri. Indeks dolar AS tercatat naik sekitar 0,8% pada hari yang sama. Selain itu, penguatan dolar melemahkan narasi emas sebagai alternatif mata uang cadangan global. Perak juga mengalami penurunan tajam, meskipun perhatian utama pasar tetap pada koreksi harga emas.
Pasar logam mulia alami kondisi ekstrem akibat margin call
Matt Maley, strategist dari Miller Tabak, menyebut kondisi pasar logam mulia saat ini ekstrem dan kemungkinan besar dipicu aksi jual paksa. Banyak posisi leverage terbangun di kalangan trader harian dan jangka pendek sehingga penurunan besar memicu margin call. Sementara Krishna Guha dari Evercore ISI menilai pasar membaca Warsh sebagai sosok yang cenderung ketat terhadap kebijakan moneter, sehingga memicu stabilisasi dolar dan penurunan harga emas.
Reli emas sepanjang 2025 mendorong koreksi tajam
Sepanjang 2025, emas mencatat kenaikan sekitar 66% karena ketegangan geopolitik, volatilitas pasar, dan spekulasi arah kepemimpinan The Fed. Analis menilai koreksi tajam kali ini wajar karena terlalu banyak investor menumpuk posisi serupa, sehingga pelepasan posisi memicu penurunan signifikan. Meskipun koreksi terjadi, alasan diversifikasi cadangan devisa dan perlindungan dari gejolak ekonomi masih menjaga minat investor terhadap logam mulia.
