Harga Emas Dunia Bergerak Fluktuatif, Investor Menunggu Sinyal The Fed
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
Harga emas dunia menunjukkan pergerakan fluktuatif sepanjang pekan lalu. Pasar mencatat harga logam mulia ini bergerak di kisaran USD5.000 hingga USD5.240 per troy ons di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Kenaikan harga sempat terjadi hingga Selasa pagi sebelum akhirnya berbalik melemah secara bertahap hingga akhir pekan. Kondisi tersebut muncul seiring kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang memicu sikap hati-hati di pasar keuangan global.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar menahan langkah sambil menunggu arah kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat.
Survei Pasar Menunjukkan Analis Wall Street Terbelah Soal Arah Harga Emas
Survei emas mingguan yang dirilis Kitco News menunjukkan pandangan analis di Wall Street masih terpecah terkait prospek emas dalam jangka pendek.
Dari 15 analis yang berpartisipasi dalam survei tersebut, enam analis atau sekitar 40 persen memprediksi harga emas akan naik pada pekan depan. Namun jumlah yang sama juga memperkirakan harga logam mulia itu justru akan melemah.
Sementara itu, tiga analis lainnya atau sekitar 20 persen menilai pergerakan emas dalam jangka pendek masih berada dalam kondisi seimbang karena ketidakpastian pasar global.
Di sisi lain, jajak pendapat terhadap investor ritel menunjukkan sentimen yang relatif lebih optimistis. Survei daring yang melibatkan 270 responden memperlihatkan mayoritas pelaku pasar ritel masih memandang emas berpotensi menguat.
Sebanyak 169 responden atau sekitar 63 persen memperkirakan harga emas akan naik. Sementara 32 responden atau sekitar 12 persen memprediksi harga akan turun, sedangkan 69 investor lainnya menilai emas akan bergerak stabil.
Analis Menilai Emas Masih Berpeluang Naik Jika Bertahan di Atas USD5.000
Ahli strategi pasar senior di Forex.com, James Stanley, menilai harga emas masih memiliki peluang menguat selama mampu bertahan di atas level psikologis USD5.000 per ons.
Ia menilai ketahanan harga di level tersebut menunjukkan meningkatnya penerimaan pasar terhadap harga emas yang lebih tinggi. Kondisi itu membuka peluang bagi investor bullish untuk kembali mendorong kenaikan harga dalam waktu dekat.
Namun demikian, pandangan berbeda datang dari Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan. Ia memperkirakan harga emas berpotensi mengalami pelemahan jangka pendek menjelang pertemuan kebijakan suku bunga oleh Federal Open Market Committee.
Menurutnya, pasar kemungkinan akan bergerak lebih hati-hati hingga keputusan suku bunga diumumkan.
Faktor Moneter Diperkirakan Tetap Menjadi Pendorong Utama Harga Emas
Di sisi lain, analis dari Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menilai faktor moneter masih akan menjadi pendorong utama pergerakan emas dalam jangka panjang.
Ia menilai dinamika geopolitik memang dapat memicu fluktuasi harga dalam jangka pendek. Namun setelah reaksi awal pasar mereda, faktor kebijakan moneter kembali memainkan peran dominan dalam menentukan arah harga emas.
Untuk pekan ini, pasar global juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting. Beberapa bank sentral dunia dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga, termasuk dari Australia, Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, Inggris, hingga kawasan Eropa.
Selain itu, investor juga menunggu rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, mulai dari aktivitas sektor manufaktur, kondisi pasar perumahan, hingga perkembangan inflasi produsen yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter berikutnya.
