Harga Emas Dunia Anjlok Tajam pada Maret 2026 Meski Sempat Menguat Harian
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Harga emas dunia mencatat kenaikan pada perdagangan Selasa waktu setempat atau Rabu, 1 April 2026 waktu Jakarta. Namun, penguatan tersebut tidak mampu menahan tekanan sepanjang Maret 2026 yang berakhir sebagai periode terburuk dalam lebih dari satu dekade.
Mengutip laporan CNBC, harga emas naik lebih dari 2 persen dan ditutup di level USD 4.678,60. Meski demikian, secara bulanan logam mulia ini justru merosot lebih dari 10 persen. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Juni 2013 sekaligus menghentikan tren kenaikan yang berlangsung selama delapan bulan berturut-turut.
Harga Perak Ikut Berfluktuasi dan Catat Penurunan Bulanan Terburuk
Pergerakan harga perak mengikuti pola serupa dengan emas. Pada perdagangan terbaru, harga perak menguat lebih dari 6 persen hingga mencapai USD 74,92. Akan tetapi, sepanjang Maret 2026, harga perak justru jatuh lebih dari 19 persen.
Penurunan tersebut mengakhiri tren kenaikan selama 10 bulan dan menjadi kinerja bulanan terburuk sejak 2011. Kondisi ini menunjukkan tekanan besar yang terjadi pada pasar logam mulia dalam periode tersebut.
Harga Emas dan Perak Masih Menguat Secara Kuartalan
Meski mengalami tekanan sepanjang Maret, kinerja logam mulia secara kuartalan masih menunjukkan hasil positif. Harga emas tercatat naik lebih dari 7 persen selama kuartal I 2026. Sementara itu, harga perak juga menguat lebih dari 6 persen dalam periode yang sama.
Kenaikan ini menandakan bahwa tren jangka menengah masih bertahan, meskipun volatilitas meningkat dalam jangka pendek.
Konflik Timur Tengah Mempengaruhi Pergerakan Harga Emas Global
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama lima pekan turut meningkatkan ketegangan pasar.
Laporan Wall Street Journal menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang untuk mengakhiri konflik meski Selat Hormuz masih terganggu. Namun, ia juga menegaskan bahwa militer AS siap menyerang fasilitas penting Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa target Washington di Iran dapat tercapai dalam hitungan minggu. Sementara itu, Reuters melaporkan sekitar 2.500 marinir AS telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik ini mendorong kenaikan harga minyak dan gas, yang pada akhirnya meningkatkan ekspektasi inflasi global. Kondisi tersebut memicu potensi kenaikan suku bunga, sehingga menekan harga emas sebagai aset investasi.
