Harga Emas Dunia Melonjak Dipicu Penurunan Minyak dan Isu Negosiasi AS-Iran
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
Penurunan Harga Minyak Redakan Kekhawatiran Inflasi Global
Jakarta – Harga emas dunia mencatat lonjakan pada Rabu, 26 Maret 2026, setelah tekanan inflasi mulai mereda seiring turunnya harga minyak. Kondisi ini mendorong minat investor kembali ke aset safe haven di tengah dinamika geopolitik global.
Data pasar menunjukkan harga emas spot naik hampir 2 persen menjadi USD 4.558,81 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman April melonjak lebih dari 3 persen ke posisi USD 4.552,30 per ounce.
Penguatan ini tidak terlepas dari laporan mengenai upaya Amerika Serikat yang tengah menyiapkan proposal untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Sentimen tersebut memperkuat optimisme pasar bahwa tekanan inflasi dapat segera mereda.
Pernyataan Donald Trump Picu Spekulasi Negosiasi dengan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington sedang menjalin komunikasi dengan Iran. Ia bahkan menyebut pembicaraan tersebut berlangsung secara rasional dan membuka peluang kesepakatan damai.
Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya menahan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran karena adanya proses negosiasi. Pernyataan ini langsung memicu reaksi pasar dan memperkuat sentimen positif terhadap emas.
Namun demikian, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan sikap Iran. Pemerintah Teheran menolak klaim adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.
Iran Membantah Negosiasi dan Tetap Tegaskan Sikap Tegas
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menjalin kesepakatan dengan Amerika Serikat. Ia menyampaikan pernyataan tegas bahwa Iran tidak akan bernegosiasi, baik saat ini maupun di masa depan.
Meski menolak negosiasi, Iran tetap membuka jalur Selat Hormuz bagi kapal yang tidak bersifat bermusuhan. Kebijakan ini memberi sinyal bahwa jalur distribusi energi global masih dapat berjalan normal di tengah ketegangan.
Sebelumnya, konflik di kawasan tersebut sempat memicu lonjakan harga energi selama hampir empat pekan. Namun, pada Rabu pagi, harga minyak justru turun tajam, dengan Brent melemah sekitar 5 persen menjadi USD 99,13 per barel dan WTI turun sekitar 4 persen ke USD 88,42 per barel.
Goldman Sachs Mempertahankan Prospek Bullish Harga Emas
Di tengah fluktuasi pasar, Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangan optimistis terhadap harga emas. Bank investasi tersebut memproyeksikan harga emas dapat mencapai USD 5.400 per ounce pada akhir 2026.
Co-Head Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven, menilai bahwa koreksi harga emas sebelumnya merupakan hal wajar. Ia menjelaskan bahwa kenaikan ekspektasi suku bunga dan tekanan pasar sempat menekan minat investor.
Selain itu, kondisi pasar yang ekstrem juga mendorong investor melepas aset, termasuk emas, untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Meski demikian, permintaan dari bank sentral yang terus meningkat menjadi faktor utama yang menopang prospek jangka panjang emas.
Dengan demikian, meskipun terjadi koreksi, tren jangka panjang emas masih menunjukkan arah penguatan seiring meningkatnya kebutuhan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian global.
