Harga Emas Dunia Naik Tajam di Tengah Data Ekonomi AS yang Melemah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
Pasar Mendorong Harga Emas Naik Setelah Data Pengupahan AS Melemah
Harga emas dunia mencatat kenaikan pada Jumat atau Sabtu waktu Jakarta, 7 Maret 2026, setelah data pengupahan di Amerika Serikat menunjukkan pelemahan. Kondisi ini mendorong harapan pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga oleh bank sentral AS tetap terbuka.
Data tersebut memberi sinyal perlambatan ekonomi yang membuat investor kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai. Meski demikian, harga emas tetap berada dalam tren penurunan mingguan pertama dalam lima pekan terakhir karena tekanan dari penguatan dolar AS.
Harga Emas Spot dan Berjangka Menguat Meski Tertekan Secara Mingguan
Harga emas di pasar spot naik 1,4 persen menjadi USD 5.149,14 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup menguat 1,6 persen di level USD 5.158,70.
Namun, secara mingguan harga emas masih melemah sekitar 2,4 persen. Tekanan tersebut muncul akibat penguatan dolar AS yang membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.
Data Tenaga Kerja AS Memicu Kekhawatiran Stagflasi
Laporan ekonomi menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian sebesar 92.000 pada bulan lalu. Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi ekonom yang sebelumnya memperkirakan kenaikan sebesar 59.000 pekerjaan.
Selain itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap potensi stagflasi, yakni kombinasi perlambatan ekonomi dengan inflasi yang tetap tinggi.
Sejumlah pelaku pasar menilai kondisi tersebut dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Konflik Timur Tengah dan Penguatan Dolar Tekan Pergerakan Emas
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pergerakan pasar. Israel melancarkan serangan ke Beirut setelah mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran di wilayah selatan ibu kota Lebanon.
Konflik tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS. Penguatan dolar yang signifikan bahkan diperkirakan menjadi yang terbesar dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Kondisi ini justru menahan laju kenaikan harga emas karena logam mulia tersebut diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.
Pelaku Pasar Menunggu Keputusan Suku Bunga The Fed
Para pembuat kebijakan Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan pada 18 Maret 2026. Pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini, dengan potensi penurunan pertama terjadi pada Juli mendatang.
Emas umumnya menunjukkan kinerja positif dalam lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Sepanjang tahun ini, harga emas tercatat telah naik lebih dari 18 persen. Kenaikan ini turut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik dan lonjakan harga energi.
Harga Logam Mulia Lain Ikut Bergerak Variatif
Selain emas, harga logam mulia lainnya juga mengalami pergerakan. Harga perak spot naik 2,6 persen menjadi USD 84,30 per ons. Sementara itu, platinum naik 0,5 persen menjadi USD 2.131,50 per ons.
Berbeda dengan itu, harga paladium justru turun 1,1 persen menjadi USD 1.646,84 per ons. Meski mengalami fluktuasi harian, seluruh logam mulia tersebut masih mencatat pelemahan secara mingguan.
