Harga Emas Dunia Melonjak Tajam Menjelang Akhir Pekan
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Jakarta – Harga emas dunia kembali menguat signifikan menjelang akhir pekan setelah sempat mengalami tekanan pada awal pekan. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global.
Pada Jumat, 27 Maret 2026, harga emas spot naik 3,6 persen menjadi USD 4.536,29 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman April juga menguat 3,6 persen ke level USD 4.533,70 per ounce. Lonjakan ini terjadi setelah harga emas sebelumnya sempat turun dan menyentuh titik terendah dalam empat bulan di USD 4.097,99.
Analis pasar dari RJO Futures, Daniel Pavilonis, melihat penurunan harga sebelumnya justru membuka peluang beli bagi investor. Ia menilai kondisi tersebut menjadi momentum yang tepat untuk kembali masuk ke pasar emas.
Konflik Timur Tengah Mendorong Investor Berburu Aset Aman
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memengaruhi pergerakan harga emas. Konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati potensi de-eskalasi konflik, khususnya terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran. Di sisi lain, harga minyak tetap bertahan di atas USD 110 per barel setelah pemerintah AS memperpanjang tenggat bagi Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.
Situasi ini mendorong investor beralih ke emas sebagai aset safe haven. Kenaikan harga energi dan pupuk akibat konflik juga meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang semakin memperkuat daya tarik emas.
Inflasi dan Kebijakan The Fed Membentuk Arah Harga Emas
Tekanan inflasi yang meningkat membuat pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Kondisi ini berpotensi memengaruhi arah harga emas dalam jangka menengah.
Pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga AS pada 2026 menjadi lebih kecil dibandingkan sebelum konflik terjadi. Padahal, suku bunga yang lebih tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Namun demikian, sejumlah lembaga keuangan tetap optimistis terhadap prospek emas. Commerzbank, misalnya, menaikkan proyeksi harga emas akhir tahun menjadi USD 5.000 per ounce dari sebelumnya USD 4.900.
Pelemahan Dolar AS Turut Mengangkat Harga Emas
Pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga emas. Ketika dolar melemah, harga emas menjadi lebih terjangkau bagi investor global.
Kondisi ini meningkatkan permintaan emas dari berbagai negara dan mendorong kenaikan harga lebih lanjut. Pada Maret 2026, penguatan dolar yang mulai mereda turut memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat.
Permintaan Global dan Aksi Bank Sentral Memperkuat Tren Kenaikan
Permintaan emas yang tinggi dari sektor industri, perhiasan, dan investasi terus menopang harga di pasar global. Tradisi konsumsi emas di negara seperti India dan Tiongkok juga ikut menjaga permintaan tetap kuat.
Selain itu, bank sentral di berbagai negara meningkatkan pembelian emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa. Langkah ini sekaligus menjadi upaya perlindungan terhadap risiko ekonomi global dan inflasi.
Dengan pasokan yang terbatas dan proses penambangan yang semakin sulit, tekanan permintaan tersebut mendorong harga emas naik dalam jangka panjang.
