Analis Prediksi Harga Emas Dunia Menguat Pekan Ini di Tengah Sentimen Global
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721216/original/051913900_1705711229-fotor-ai-2024012073928.jpg)
Survei Kitco Tunjukkan Analis dan Investor Mulai Kembali Optimistis
Jakarta – Sejumlah analis memproyeksikan harga emas dunia berpotensi menguat sepanjang pekan ini. Optimisme tersebut muncul seiring hasil survei mingguan Kitco News yang memperlihatkan perubahan sentimen pasar ke arah lebih positif.
Dalam survei yang dirilis Senin, 30 Maret 2026, sebanyak 16 analis berpartisipasi. Hasilnya, delapan analis atau 50 persen memperkirakan harga emas akan naik. Sementara itu, tiga analis atau 19 persen memprediksi penurunan, dan lima lainnya melihat pergerakan cenderung seimbang dalam jangka pendek.
Selain itu, jajak pendapat terhadap 263 investor ritel menunjukkan kecenderungan serupa. Sebanyak 53 persen responden memperkirakan harga emas akan menguat, sedangkan 23 persen memprediksi penurunan dan 24 persen menilai harga akan bergerak stabil.
Adrian Day Nilai Tren Kenaikan Emas Masih Berlanjut
Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menyatakan harga emas masih memiliki peluang naik meski pergerakannya cenderung fluktuatif. Ia menilai level penutupan di atas USD4.350 per ounce menjadi indikasi kuat bahwa pasar mulai menemukan titik terendahnya.
Ia juga menekankan bahwa dinamika geopolitik, khususnya terkait Iran, dapat memengaruhi arah pergerakan emas. Jika ketegangan mereda, perhatian pasar akan kembali tertuju pada kebijakan moneter global.
Menurut dia, komitmen bank sentral dalam menekan inflasi akan menghadapi ujian ketika data ekonomi mulai melemah. Kondisi tersebut berpotensi memicu perubahan kebijakan yang dapat mendukung harga emas.
Jesse Colombo Soroti Faktor Teknis dan Pengaruh Dolar AS
Analis logam mulia Jesse Colombo melihat kenaikan harga emas pada akhir pekan lalu dipicu oleh beberapa faktor teknis. Ia menilai tembusnya level resistance di kisaran USD4.470 menjadi salah satu pemicu penguatan harga.
Selain itu, ia mengaitkan pergerakan tersebut dengan dinamika dolar Amerika Serikat dan harga minyak. Menurut dia, kombinasi faktor teknis dan sentimen global turut memperkuat momentum kenaikan emas.
Colombo mengamati bahwa zona support berada di rentang USD4.300 hingga USD4.600. Ia menilai selama harga bertahan di area tersebut, tren kenaikan masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Analis Lain Peringatkan Potensi Koreksi di Tengah Tekanan Pasar
Di sisi lain, analis senior FXPro Alex Kuptsikevich mengingatkan potensi koreksi harga emas. Ia menilai penguatan dolar AS dan tekanan di pasar saham dapat menciptakan kondisi yang kurang mendukung bagi emas.
Menurut dia, kenaikan harga emas sering kali bersifat sementara dalam situasi tersebut, meskipun logam mulia tetap berperan sebagai aset safe haven. Ia juga menyoroti kemungkinan terjadinya margin call yang dapat memicu tekanan tambahan pada harga.
Kuptsikevich menegaskan bahwa pandangan bullish baru akan menguat jika bank sentral utama memberikan sinyal jelas terkait pelonggaran kebijakan moneter.
Pasar Pantau Data Ekonomi AS di Tengah Pekan Perdagangan Lebih Singkat
Pada pekan ini, aktivitas perdagangan diperkirakan lebih singkat karena libur Jumat Agung. Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati sejumlah data penting dari Amerika Serikat.
Beberapa agenda utama meliputi pidato Ketua The Fed Jerome Powell, rilis data lowongan kerja JOLTS, kepercayaan konsumen, hingga laporan ketenagakerjaan. Data-data ini akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter dan pergerakan emas.
Direktur Walsh Trading John Weyer menilai ketidakpastian terkait konflik Iran membuat pasar logam mulia sulit diprediksi. Ia menyebut volatilitas tinggi masih akan terjadi, meskipun dalam jangka panjang harga emas berpotensi tetap kuat.
