Harga Emas Dunia Turun Lebih dari 1% di Tengah Konflik Timur Tengah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
CNBC melaporkan penurunan harga emas akibat penguatan dolar AS
Harga emas dunia mencatat penurunan signifikan pada perdagangan Senin di tengah meningkatnya tensi konflik Timur Tengah. Data yang dikutip dari CNBC menunjukkan harga emas spot turun 1,5% ke level USD 5.091,62 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ikut melemah 1,1% menjadi USD 5.103,70 per ounce.
Penurunan ini terjadi seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global. Kondisi tersebut langsung menekan permintaan, terutama dari pelaku pasar yang menggunakan mata uang selain dolar.
Analis menilai ekspektasi suku bunga tinggi menekan daya tarik emas
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga turut memberi tekanan pada harga emas. Ia menjelaskan bahwa kekhawatiran inflasi yang muncul akibat konflik justru mendorong pasar memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas sebagai aset tanpa imbal hasil menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen lain yang memberikan return. Oleh karena itu, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbunga.
Meski demikian, Wyckoff menegaskan bahwa konflik yang berlangsung lama tetap berpotensi menjaga permintaan emas sebagai aset lindung nilai, sehingga penurunan harga tidak berlangsung tanpa batas.
Konflik Timur Tengah mendorong penguatan dolar dan kenaikan harga energi
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak yang mendekati USD 120 per barel. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, terutama setelah jalur strategis Selat Hormuz dilaporkan terdampak konflik.
Di sisi lain, penguatan dolar AS terjadi karena investor mencari aset likuid di tengah ketidakpastian global. Dampaknya, harga emas semakin tertekan karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Selain itu, eskalasi militer yang melibatkan serangan di wilayah Iran hingga Beirut turut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
Pasar menunggu data inflasi dan keputusan Federal Reserve
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama indeks harga konsumen (CPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE). Kedua indikator ini akan menjadi acuan utama dalam menentukan arah kebijakan Federal Reserve.
Jika data inflasi menunjukkan angka tinggi, pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga emas lebih lanjut.
Sementara itu, pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve pada 17–18 Maret diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Namun, arah kebijakan ke depan tetap sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi global.
Harga logam lain bergerak variatif mengikuti dinamika pasar
Selain emas, pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan variasi. Harga perak spot tercatat turun tipis 0,2% menjadi USD 84,18 per ounce.
Sebaliknya, platinum justru naik 1,1% ke level USD 2.158,02 per ounce. Sementara itu, palladium mencatat kenaikan paling tinggi sebesar 2,4% menjadi USD 1.663,79 per ounce.
Pergerakan beragam ini mencerminkan dinamika pasar yang masih dipengaruhi kombinasi faktor ekonomi global, kebijakan moneter, serta ketegangan geopolitik.
