Harga Emas Bergerak Konsolidatif pada Minggu 18 Januari 2026 dan Menunjukkan Arah Selanjutnya

Harga emas domestik bergerak dalam fase konsolidasi sepanjang sepekan hingga Minggu, 18 Januari 2026. Pergerakan harga yang naik turun dalam rentang terbatas mencerminkan sikap pasar yang berhati-hati di tengah dinamika global. Secara mingguan, harga emas Antam mencatat kenaikan sekitar 1,22%, sementara harga emas digital Treasury justru terkoreksi sekitar 0,51%, menandakan perbedaan respons pelaku pasar ritel terhadap perubahan harga.
Harga emas Antam menunjukkan tren menguat sejak awal pekan. Pada perdagangan Senin hingga Kamis, harga emas Antam naik bertahap dari Rp2.631.000 menjadi Rp2.675.000 per gram. Memasuki Jumat, harga bergerak stagnan sebelum akhirnya terkoreksi pada Sabtu ke level Rp2.663.000 per gram. Meski turun di akhir pekan, harga emas Antam tetap menutup perdagangan mingguan dengan kinerja positif dibandingkan posisi awal pekan.
Harga Emas Treasury Mengalami Penyesuaian Bertahap Sepanjang Pekan
Berbeda dengan emas fisik, harga emas digital Treasury bergerak lebih fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Harga emas Treasury memulai pekan dengan pelemahan dari Senin ke Selasa, lalu sempat menguat pada Rabu. Namun tekanan kembali muncul pada Kamis hingga Sabtu, mendorong harga turun ke level Rp2.610.430 per gram. Pergerakan ini mencerminkan proses penyesuaian harga terhadap volatilitas pasar global dan aksi ambil untung jangka pendek.
Perbedaan arah pergerakan antara emas Antam dan emas Treasury menunjukkan variasi preferensi investor. Kenaikan harga emas fisik mengindikasikan ketahanan permintaan domestik, sementara koreksi emas digital mencerminkan sensitivitas terhadap perubahan harga global. Kondisi ini menegaskan pentingnya strategi selektif bagi investor dalam mengelola portofolio emas.
Prospek Harga Emas Tetap Konstruktif Meski Risiko Koreksi Mengintai
Ke depan, prospek harga emas masih dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika geopolitik. Pasar terus mencermati arah suku bunga The Fed, dengan harapan adanya dua kali pemangkasan suku bunga dalam periode mendatang. Suku bunga riil yang rendah dan potensi pelemahan dolar Amerika Serikat tetap menjadi faktor pendukung bagi emas.
Dari sisi fundamental, pembelian bank sentral, tren dedolarisasi, serta ketidakpastian geopolitik global memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Secara teknikal, indikator Relative Strength Index yang berada di atas level 50 menegaskan bias bullish, meski indikator Stochastic RSI yang mendekati area jenuh beli mengindikasikan potensi konsolidasi lanjutan. Selama risiko global bertahan, emas diperkirakan tetap menarik bagi investor jangka menengah.
