Harga Emas Melonjak 3,6 Persen saat Investor Bereaksi terhadap Konflik Timur Tengah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
Investor Mendorong Kenaikan Harga Emas Usai Koreksi Awal Pekan
Jakarta – Harga emas dunia melonjak tajam pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, setelah investor memanfaatkan momentum koreksi yang terjadi di awal pekan. Aksi beli yang meningkat mendorong harga emas kembali menguat di tengah ketidakpastian global.
Harga emas di pasar spot tercatat naik 3,6 persen menjadi USD 4.536,29 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga meningkat dengan persentase yang sama ke posisi USD 4.533,70 per ounce.
Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan di USD 4.097,99 per ounce pada awal pekan. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan investor sebagai peluang untuk kembali masuk ke pasar.
Analis Melihat Koreksi Harga sebagai Momentum Strategis untuk Membeli
Senior Market Strategist RJO Futures, Daniel Pavilonis, menilai penurunan harga sebelumnya justru membuka peluang investasi yang menarik. Ia menyebut harga emas sempat turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang sering dianggap sebagai sinyal beli oleh pelaku pasar.
Ia memperkirakan harga emas akan mengalami kenaikan secara bertahap dalam beberapa pekan ke depan. Selain itu, perkembangan situasi geopolitik, khususnya konflik yang melibatkan Iran, dinilai akan terus memengaruhi arah pergerakan harga.
Konflik Timur Tengah Memicu Lonjakan Harga Energi dan Kekhawatiran Inflasi
Di sisi lain, konflik yang meluas di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak yang bertahan di atas USD 110 per barel. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global karena meningkatnya biaya energi dan pupuk.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang tenggat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Iran menolak proposal tersebut sehingga konflik terus berlanjut hingga memasuki minggu keempat.
Situasi ini membuat investor terus memantau potensi de-eskalasi yang dapat memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.
Kebijakan Suku Bunga AS Ikut Membentuk Arah Pergerakan Emas
Kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi turut memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar kini melihat peluang perubahan arah kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve.
Data dari FedWatch Tool milik CME Group menunjukkan bahwa pasar telah memperhitungkan kemungkinan penurunan suku bunga pada 2026. Hal ini berbeda dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sebelum konflik terjadi.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi faktor penting karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga emas dengan meningkatkan biaya peluang kepemilikan aset tanpa imbal hasil.
Bank Investasi Menaikkan Proyeksi Harga Emas hingga USD 5.000
Commerzbank menaikkan proyeksi harga emas dan memperkirakan harga logam mulia itu dapat mencapai USD 5.000 per ounce pada akhir tahun. Proyeksi ini meningkat dari estimasi sebelumnya sebesar USD 4.900.
Bank tersebut menilai penurunan harga emas baru-baru ini tidak akan berlangsung lama. Selain itu, mereka memperkirakan konflik Iran dapat mereda pada musim semi sehingga membuka peluang penurunan suku bunga di masa mendatang.
Commerzbank juga memprediksi Federal Reserve akan memangkas suku bunga sekitar 75 basis poin hingga pertengahan tahun depan.
Pelemahan Dolar dan Dinamika Pasar Global Menekan Harga Emas Sebelumnya
Sebelum mengalami lonjakan, harga emas sempat melemah pada Kamis, 26 Maret 2026. Penguatan dolar Amerika Serikat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain sehingga menekan permintaan.
Selain itu, kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi turut memicu ekspektasi kenaikan suku bunga yang berdampak negatif terhadap harga emas.
Analis Senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebut harga emas dapat turun di bawah USD 4.000 jika konflik terus berlanjut. Namun, ia juga melihat peluang kenaikan kembali mendekati USD 5.000 jika terjadi gencatan senjata dan ekspektasi penurunan suku bunga menguat.
