Harga Emas Pegadaian Naik pada 29 Maret 2026, UBS dan Galeri24 Ikut Menguat
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3975040/original/077790600_1648205648-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-5.jpg)
Jakarta – Harga emas di Pegadaian kembali mencatat kenaikan pada Minggu, 29 Maret 2026. Kenaikan ini terjadi pada produk emas UBS, Galeri24, dan Antam seiring menguatnya tren harga emas global.
Data dari laman Sahabat Pegadaian pada pukul 07.24 WIB menunjukkan harga emas UBS naik Rp13.000 menjadi Rp2.832.000 per gram dari sebelumnya Rp2.819.000. Sementara itu, harga emas Galeri24 meningkat Rp12.000 menjadi Rp2.818.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp2.806.000.
Di sisi lain, harga emas Antam juga mengalami kenaikan lebih tinggi. Pegadaian menetapkan harga emas Antam naik Rp28.000 menjadi Rp2.937.000 per gram dibandingkan hari sebelumnya Rp2.909.000 per gram. Kenaikan ini mempertegas tren penguatan harga logam mulia di pasar domestik.
Kenaikan Harga Emas Global Mendorong Harga di Pegadaian
Pergerakan harga emas di Pegadaian tidak terlepas dari lonjakan harga emas dunia pada akhir pekan. Pada Jumat, 27 Maret 2026, harga emas global melonjak lebih dari 3 persen setelah sebelumnya mengalami koreksi di awal pekan.
Harga emas spot tercatat naik 3,6 persen menjadi USD 4.536,29 per ounce. Sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga meningkat 3,6 persen menjadi USD 4.533,70 per ounce.
Analis RJO Futures, Daniel Pavilonis, menilai koreksi harga sebelumnya membuka peluang beli bagi investor. Ia menyebut penurunan harga yang sempat menembus rata-rata pergerakan 200 hari menjadi momentum strategis untuk masuk ke pasar.
Konflik Timur Tengah Memicu Permintaan Aset Safe Haven
Selain faktor teknikal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga emas. Konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Harga minyak yang tetap bertahan di atas USD 110 per barel semakin memperkuat kekhawatiran inflasi. Situasi ini mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman seperti emas.
Di sisi lain, pasar juga mencermati peluang de-eskalasi konflik, terutama terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran. Namun, ketidakpastian yang masih tinggi membuat permintaan terhadap emas tetap kuat.
Inflasi dan Kebijakan The Fed Membentuk Prospek Harga Emas
Kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi dan pupuk turut memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar kini memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas dibandingkan sebelum konflik terjadi.
Kondisi ini biasanya menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil. Namun demikian, sejumlah lembaga tetap optimistis terhadap prospek emas.
Commerzbank, misalnya, menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi USD 5.000 per ounce dari sebelumnya USD 4.900. Bank tersebut juga memperkirakan penurunan harga emas tidak akan berlanjut dalam jangka panjang.
