Harga Emas Pegadaian Tetap Stabil di Tengah Lonjakan Harga Global
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3975041/original/057738200_1648205649-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-6.jpg)
Harga emas Pegadaian menunjukkan pergerakan stabil pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026, meskipun harga emas dunia melonjak dan menembus level psikologis USD 5.000 per ounce. Kondisi ini mencerminkan sikap pasar domestik yang cenderung menahan harga di tengah sentimen global yang sangat bullish.
Liputan6.com, Jakarta — Produk logam mulia UBS dan Galeri24 yang dipasarkan melalui Pegadaian tercatat tidak mengalami perubahan harga. Stabilitas ini terjadi saat pasar global mencatat reli emas berjangka yang didorong oleh permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Harga Emas Dunia Menguat dan Mencapai Level USD 5.000
Data dari Trading Economics menunjukkan harga emas dunia berada di level USD 5.031 per ounce atau naik sekitar 0,87 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Kenaikan ini memperkuat tren emas sebagai aset aman yang kembali diminati investor global.
Lonjakan harga internasional tersebut belum sepenuhnya diteruskan ke pasar ritel domestik. Pegadaian mempertahankan harga emas batangan UBS dan Galeri24 tanpa perubahan, sehingga memberi ruang stabil bagi konsumen yang ingin bertransaksi emas fisik.
Emas Galeri24 dan UBS Dijual Stabil di Pegadaian
Harga emas Galeri24 tercatat bertahan di level Rp 2.925.000 per gram. Produk ini tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau setara 1 kilogram. Stabilitas harga ini memberi kepastian bagi investor ritel yang fokus pada akumulasi jangka panjang.
Sementara itu, emas UBS dijual stabil di kisaran Rp 2.974.000 per gram. Pegadaian memasarkan emas UBS dengan pilihan ukuran mulai dari 0,5 gram hingga 500 gram, sehingga tetap fleksibel untuk berbagai profil pembeli.
Goldman Sachs Mendorong Optimisme Prospek Emas 2026
Di sisi global, Goldman Sachs menaikkan target harga emas tahun 2026 menjadi USD 5.400 per ounce. Revisi ini mencerminkan meningkatnya minat investor swasta terhadap emas sebagai aset lindung nilai jangka menengah hingga panjang.
Analis Goldman Sachs menilai investor kini meniru strategi bank sentral yang lebih dulu mengalihkan cadangan ke emas. Permintaan emas dinilai semakin struktural, tidak lagi sekadar respons terhadap peristiwa jangka pendek.
Permintaan Bank Sentral dan Prospek The Fed Perkuat Tren
Goldman Sachs memproyeksikan pembelian emas oleh bank sentral negara berkembang tetap tinggi sepanjang 2026. Selain itu, potensi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve juga diperkirakan akan memperkuat daya tarik emas.
Kombinasi permintaan bank sentral, minat investor swasta, dan ketidakpastian kebijakan global menjadikan emas sebagai aset yang dinilai paling menarik di tengah dinamika ekonomi dunia.
