Analis Ungkap Alasan Harga Emas Sempat Turun di Tengah Konflik Timur Tengah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2375574/original/030742400_1538739776-20181005-Emas-Antam-5.jpg)
Pasar Mengalihkan Fokus ke Kebijakan Moneter Saat Konflik Memanas
Jakarta – Harga emas sempat mengalami tekanan meski konflik geopolitik di Timur Tengah memanas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar karena emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven saat ketidakpastian meningkat.
Pengamat komoditas Wahyu Laksono menjelaskan bahwa pasar tidak hanya merespons situasi geopolitik, tetapi juga mempertimbangkan kebijakan ekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa ketegangan yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran justru memicu tekanan jual pada emas dalam jangka pendek.
Menurutnya, pelaku pasar lebih fokus pada arah kebijakan moneter dibandingkan risiko perang. Pergeseran fokus ini membuat harga emas sempat melemah meskipun ketegangan global meningkat.
Kenaikan Harga Minyak Mendorong Inflasi dan Menekan Emas
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak dunia akibat kekhawatiran gangguan pasokan, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz. Kenaikan harga energi tersebut kemudian meningkatkan tekanan inflasi global.
Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa bank sentral, terutama The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Akibatnya, emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen lain, termasuk obligasi.
Wahyu menyebut penurunan harga emas hingga ke kisaran USD 4.100 per troy ons terjadi bukan karena meredanya konflik, melainkan karena tekanan dari kebijakan suku bunga dan inflasi yang meningkat.
Penguatan Dolar AS dan Aksi Ambil Untung Mempercepat Penurunan
Selain faktor suku bunga, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan tambahan pada harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan cenderung melemah.
Selanjutnya, aksi ambil untung oleh investor setelah harga emas sempat mencapai rekor juga mempercepat penurunan. Kombinasi faktor ini membuat harga emas bergerak turun dalam waktu singkat meskipun sentimen geopolitik masih tinggi.
Harapan Deeskalasi Konflik Mendorong Harga Emas Mulai Rebound
Meski sempat tertekan, harga emas tidak terus melemah. Wahyu menilai emas mulai menunjukkan pemulihan secara bertahap setelah muncul harapan deeskalasi konflik. Pernyataan terkait peluang negosiasi dan gencatan senjata turut menekan dolar AS dan harga minyak.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat. Ia menegaskan bahwa pergerakan harga emas saat ini mencerminkan tarik-menarik antara faktor geopolitik dan kebijakan moneter global.
Pasar Memperkirakan Volatilitas Harga Emas Masih Tinggi ke Depan
Ke depan, Wahyu memperkirakan harga emas akan tetap bergerak fluktuatif, terutama menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat seperti PCE. Jika konflik kembali memanas dan mendorong inflasi, kenaikan harga emas bisa tertahan.
Sebaliknya, jika tensi geopolitik mereda dan muncul sinyal pelonggaran suku bunga, emas berpotensi melanjutkan tren penguatan. Untuk pasar domestik, pergerakan harga juga akan dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dengan demikian, emas masih memiliki peluang menguat dalam jangka menengah hingga panjang, meskipun pergerakannya cenderung dinamis mengikuti perubahan kondisi global.
