Indonesia Catat Pembelian Emas 48,2 Ton pada 2025
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Permintaan emas konsumen Indonesia mencatat lonjakan signifikan
Jakarta – World Gold Council (WGC) melaporkan total permintaan emas konsumen Indonesia mencapai 48,2 ton sepanjang 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan yang stabil sebesar 2 persen, meski pasar global mengalami volatilitas ekonomi. Shaokai Fan, Head of Asia Pacific (ex China) dan Global Head of Central Banks WGC, menyatakan bahwa meskipun pertumbuhan keseluruhan moderat, terjadi pergeseran jelas menuju produk investasi, terutama emas batangan dan koin.
Emas batangan dan koin meningkat 29 persen
Fan menjelaskan permintaan emas batangan dan koin melonjak 29 persen menjadi 31,6 ton. Lonjakan ini dipicu kebutuhan masyarakat untuk melindungi nilai kekayaan di tengah pelemahan mata uang domestik, ketidakpastian ekonomi, dan terbatasnya alternatif investasi yang menarik. Tren ini menegaskan emas tetap menjadi aset strategis bagi rumah tangga dan investor ritel Indonesia.
Konsumen Indonesia manfaatkan emas sebagai agunan
WGC mencatat bahwa banyak konsumen Indonesia kini menggunakan emas sebagai agunan untuk mengakses likuiditas melalui mekanisme gadai, alih-alih menjual asetnya. Strategi ini memungkinkan mereka mendapatkan manfaat dari kenaikan harga sambil tetap mempertahankan kepemilikan emas. Fan menekankan bahwa perilaku ini memperkuat peran emas sebagai instrumen finansial yang andal bagi rumah tangga.
Emas tetap jadi tabungan jangka panjang
Marissa Salim, Senior Research Lead APAC WGC, menambahkan bahwa sinergi antara keterbatasan pasokan global dan posisi emas sebagai kebutuhan budaya memastikan perannya tetap kuat sebagai aset strategis. Pembelian emas meningkat menjelang perayaan besar, termasuk Idulfitri, di mana THR dan tradisi pemberian hadiah mendorong masyarakat mengalokasikan dana untuk tabungan jangka panjang dan transfer kekayaan.
Pasar emas Indonesia beradaptasi dengan volatilitas
Marissa menilai kenaikan permintaan 29 persen mencerminkan adaptasi pasar emas Indonesia terhadap situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Investor mengandalkan emas sebagai safe haven untuk melindungi kekayaan dari fluktuasi pasar, sehingga daya tarik logam mulia tetap tinggi meski kondisi ekonomi global tidak stabil.
