Goldman Sachs Memproyeksikan Harga Emas Menembus Level Tak Terduga pada 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Jakarta – Goldman Sachs kembali menaikkan target harga emas dunia untuk tahun 2026 seiring meningkatnya minat investor sektor swasta terhadap aset lindung nilai. Bank investasi global tersebut kini memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai USD 5.400 per ounce, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya yang berada di level USD 4.900 per ounce. Revisi agresif ini mencerminkan perubahan pandangan pasar terhadap peran emas dalam menjaga nilai kekayaan di tengah ketidakpastian global.
Kenaikan target tersebut muncul di tengah perubahan strategi investor yang semakin aktif melakukan diversifikasi portofolio. Investor swasta dinilai mulai meniru langkah bank sentral yang lebih dulu mengalihkan sebagian cadangan asetnya ke emas sebagai respons atas risiko kebijakan fiskal dan moneter global yang terus berkembang.
Investor Global Mengalihkan Portofolio ke Emas sebagai Aset Aman
Goldman Sachs menilai permintaan emas tidak lagi bertumpu pada saluran investasi tradisional. Investor keluarga beraset besar dan pelaku pasar swasta kini semakin agresif membeli emas fisik untuk melindungi kekayaan dari gejolak makroekonomi. Kondisi ini memperluas basis permintaan emas dan memperkuat fundamental harga dalam jangka menengah.
Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven dan Lina Thomas menyebut pergeseran ini sebagai faktor kunci yang mendorong revisi proyeksi harga. Mereka menilai emas semakin dipandang sebagai aset strategis untuk menghadapi risiko fiskal, volatilitas mata uang, dan ketidakpastian arah kebijakan global.
Harga Emas Dunia Bergerak Kuat dan Mendukung Proyeksi Kenaikan
Pergerakan harga emas dunia dalam beberapa waktu terakhir turut menguatkan optimisme tersebut. Harga emas berjangka sempat bergerak di sekitar level USD 5.000 per ounce, mencerminkan kuatnya minat beli investor global. Momentum ini menunjukkan pasar mulai mengantisipasi periode harga emas yang bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.
Kondisi geopolitik global yang masih memanas serta kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal di sejumlah negara maju terus mendorong emas sebagai pilihan utama aset aman. Situasi ini membuat reli harga emas dinilai tidak bersifat sementara.
Permintaan Bank Sentral Menjadi Penopang Jangka Panjang Harga Emas
Selain investor swasta, pembelian emas oleh bank sentral tetap menjadi penopang utama harga. Goldman Sachs memperkirakan bank sentral global terus membeli emas dalam jumlah besar setiap bulan, jauh di atas rata-rata historis sebelum 2022. Negara-negara berkembang secara aktif mengalihkan cadangan devisanya ke emas untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang utama.
Goldman menilai kebutuhan lindung nilai terhadap risiko makro global kini bersifat lebih permanen. Dengan kombinasi permintaan kuat dari bank sentral dan sektor swasta, harga emas diproyeksikan bertahan tinggi hingga akhir 2026.
