Analis Bersikap Netral Saat Investor Ritel Optimistis terhadap Harga Emas Pekan Depan
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Survei Menunjukkan Analis Wall Street Memilih Sikap Hati-Hati
Jakarta – Pasar emas global menunjukkan perbedaan pandangan antara analis profesional dan investor ritel menjelang pekan depan. Laporan Kitco News pada Jumat, 3 April 2026, mengungkap mayoritas analis di Wall Street memilih bersikap netral di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global.
Dalam survei yang melibatkan 15 analis, hanya 27 persen yang memperkirakan harga emas akan naik. Sementara itu, 20 persen memprediksi penurunan, dan sebanyak 53 persen lainnya menilai pergerakan harga cenderung seimbang dalam jangka pendek. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar profesional dalam membaca arah pergerakan emas.
Investor Ritel Menunjukkan Keyakinan Kuat terhadap Kenaikan Harga Emas
Di sisi lain, investor ritel justru menunjukkan optimisme yang lebih tinggi terhadap prospek emas. Dari 61 responden dalam jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 59 persen memperkirakan harga emas akan meningkat dalam waktu dekat.
Sementara itu, 21 persen responden memprediksi penurunan dan 20 persen lainnya memperkirakan harga bergerak stabil. Optimisme ini muncul karena emas masih mencatatkan kenaikan mingguan meski mengalami volatilitas akibat dinamika geopolitik global.
Marc Chandler dari Bannockburn Global Forex menilai harga emas sempat pulih setelah mengalami tekanan, namun kembali melemah usai pidato Presiden Amerika Serikat yang memicu ketidakpastian pasar. Ia juga menyoroti adanya aksi jual emas oleh sejumlah negara, termasuk Turki, untuk menjaga stabilitas mata uang domestik.
Analis Menilai Faktor Geopolitik dan Ekonomi Akan Menggerakkan Harga
Sejumlah analis menilai faktor geopolitik tetap menjadi pendorong utama pergerakan emas. Adam Button dari Forexlive menegaskan bahwa prospek jangka panjang emas masih kuat karena meningkatnya peran logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Ia menjelaskan bahwa konflik global dapat meningkatkan daya tarik emas, terutama ketika kepercayaan terhadap dolar AS mulai melemah. Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa tekanan likuiditas global dapat memicu penjualan cadangan emas oleh negara-negara tertentu, sehingga menekan harga dalam jangka pendek.
Analis Mengidentifikasi Level Kunci Pergerakan Harga Emas Dunia
Analis dari CPM Group menyarankan investor untuk menahan diri hingga pertengahan April sambil memantau pergerakan pasar. Mereka memproyeksikan harga emas bergerak dalam kisaran USD 4.100 hingga USD 4.850 per ons.
Sementara itu, analis senior Kitco Jim Wyckoff menyebut penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi sebagai faktor yang menekan harga. Ia mengidentifikasi level USD 5.000 sebagai resistance kuat, sedangkan support penting berada di kisaran USD 4.300.
Pada saat yang sama, harga emas spot tercatat berada di level USD 4.676,74 per ons. Harga tersebut menguat 6,56 persen dalam sepekan, meski masih terkoreksi 1,71 persen secara harian.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, mulai dari PMI jasa, pesanan barang tahan lama, risalah rapat The Fed, hingga data inflasi dan tenaga kerja. Kombinasi faktor fundamental dan geopolitik ini diperkirakan akan terus menentukan arah harga emas dalam waktu dekat.
