Robert Kiyosaki Peringatkan Potensi Crash Pasar Saham Global pada 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5342655/original/057756700_1757397640-2.jpg)
Penulis buku keuangan terkenal Robert Kiyosaki kembali mengingatkan potensi kejatuhan besar di pasar saham global. Ia menyampaikan peringatan tersebut ketika pasar mulai menunjukkan pelemahan setelah sebelumnya berada di level tinggi.
Melalui unggahan di platform X, Kiyosaki menyatakan bahwa ia telah memperingatkan kemungkinan krisis tersebut sejak lama. Dalam bukunya Rich Dad’s Prophecy yang terbit pada 2013, ia menulis bahwa pasar saham suatu saat akan mengalami kejatuhan besar.
Ia bahkan menyebut kemungkinan crash tersebut mulai terjadi pada 2026, meskipun ia berharap prediksinya tidak terbukti. Menurutnya, fondasi masalah yang memicu krisis keuangan global pada 2008 belum sepenuhnya diselesaikan.
Krisis pada 2008 sendiri terjadi akibat gelembung sektor perumahan di Amerika Serikat yang dipenuhi kredit berisiko tinggi dan instrumen keuangan kompleks yang terkait dengan pinjaman tersebut.
Robert Kiyosaki Menilai Tabungan Pensiun Baby Boomers Paling Rentan
Kiyosaki menilai dampak krisis baru bisa lebih besar dibandingkan krisis sebelumnya. Ia memperingatkan bahwa kelompok yang paling berisiko terkena dampak adalah generasi baby boomers yang kini mendekati masa pensiun.
Pada krisis 2008, indeks S&P 500 tercatat turun sekitar 38,5 persen. Jika penurunan serupa kembali terjadi, banyak tabungan pensiun yang terhubung dengan pasar saham dapat mengalami penurunan tajam.
Ia menilai risiko tersebut meningkat karena sebagian besar kekayaan masyarakat saat ini ditempatkan di pasar saham. Di Amerika Serikat, dana pensiun sektor swasta mengalokasikan hampir 70 persen asetnya pada saham.
Selain itu, rumah tangga di AS juga menyimpan sekitar 45,4 persen aset keuangan mereka dalam bentuk saham. Kondisi ini membuat potensi dampak krisis menjadi lebih luas.
Robert Kiyosaki Mendorong Investor Membeli Emas, Perak, dan Kripto
Untuk menghadapi kemungkinan gejolak pasar, Kiyosaki menyarankan investor bersikap lebih proaktif dalam mengelola portofolio. Ia menyebut emas, perak, serta aset kripto sebagai pilihan investasi yang dapat membantu melindungi nilai kekayaan.
Menurutnya, logam mulia memiliki keunggulan karena tidak dapat dicetak secara bebas seperti mata uang fiat yang dikendalikan bank sentral. Oleh sebab itu, emas dan perak sering dipandang sebagai aset lindung nilai ketika ketidakpastian ekonomi meningkat.
Selain logam mulia, Kiyosaki juga merekomendasikan aset digital seperti Bitcoin dan Ethereum. Ia mengakui harga kripto dapat berfluktuasi tajam, namun ia melihat penurunan harga sebagai kesempatan untuk membeli lebih banyak aset tersebut.
Robert Kiyosaki Menyarankan Diversifikasi Melalui Properti dan Aset Alternatif
Kiyosaki juga menekankan pentingnya diversifikasi investasi untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Ia mendorong investor tidak hanya mengandalkan saham, tetapi juga mempertimbangkan aset lain yang dapat menghasilkan pendapatan.
Salah satu instrumen yang ia rekomendasikan adalah properti sewa karena dapat memberikan arus kas meskipun pasar saham mengalami penurunan. Menurutnya, properti juga sering menjadi pelindung terhadap inflasi karena nilai aset dan harga sewa cenderung meningkat.
Selain itu, ia menyebut aset alternatif seperti karya seni sebagai pilihan yang sering diabaikan investor. Kiyosaki menilai karya seni memiliki pasokan terbatas dan permintaan global yang kuat sehingga berpotensi mempertahankan nilainya saat pasar keuangan bergejolak.
