Harga Bitcoin Mendekati Emas Seiring Perubahan Arus Dana ETF
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
Analis Menilai Rasio Bitcoin terhadap Emas Menguat
Pendiri MN Capital, Michaël van de Poppe, menilai rasio Bitcoin terhadap emas mulai menunjukkan penguatan setelah membentuk divergensi bullish pada indikator Relative Strength Index (RSI) di grafik harian. Kondisi ini muncul ketika harga mencetak level terendah baru, sementara indikator momentum justru membentuk titik terendah yang lebih tinggi.
Situasi tersebut menandakan tekanan jual mulai mereda dan membuka peluang penguatan harga. Pada Februari lalu, rasio Bitcoin terhadap emas sempat terkoreksi ke area support penting di kisaran 12–13. Level ini sebelumnya menjadi resistance pada 2017 sebelum berubah menjadi support pada 2022 dan 2023, sehingga berpotensi menjadi titik balik tren jangka panjang.
Arus Dana ETF Beralih dari Emas ke Bitcoin
Perubahan aliran dana di instrumen ETF turut memperkuat indikasi tersebut. Dalam satu bulan terakhir, ETF berbasis emas di Amerika Serikat mencatat arus keluar besar. SPDR Gold Shares (GLD) bahkan membukukan arus keluar hingga USD 3 miliar pada 6 Maret, melampaui rekor dua tahun terakhir.
Sebaliknya, ETF Bitcoin menunjukkan pemulihan signifikan. Dalam periode 30 hari, arus dana berbalik menjadi masuk bersih sebesar USD 906 juta per 11 Maret, setelah sebelumnya mengalami arus keluar USD 1,9 miliar.
Selain itu, jumlah kepemilikan juga menunjukkan perbedaan mencolok. Saldo ETF Bitcoin meningkat menjadi 12.909 BTC dari sebelumnya minus 34.197 BTC. Sementara itu, kepemilikan ETF emas turun drastis menjadi sekitar 606.850 ons dari sebelumnya 1,4 juta ons pada pertengahan Februari.
Kondisi Makro Global Membuka Peluang bagi Bitcoin
Di tengah volatilitas global, riset terbaru menyebut kondisi makro saat ini justru dapat menjadi peluang bagi Bitcoin. Pergerakan harga Bitcoin mulai mengikuti aset makro lain seperti minyak dan saham Amerika Serikat, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Meskipun volatilitas masih tinggi, arus modal perlahan kembali ke Bitcoin. Porsi volume perdagangan dari ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat juga mengalami peningkatan, menandakan keterlibatan investor institusional semakin besar.
Namun demikian, kontribusi ETF masih sekitar 9 persen dari total volume perdagangan Bitcoin, jauh di bawah pasar saham yang mencapai 30 hingga 40 persen. Hal ini menunjukkan ruang pertumbuhan institusional masih terbuka lebar.
Sejarah Menunjukkan Bitcoin Berpotensi Pulih Setelah Gejolak
Secara historis, periode ketidakpastian global sering diikuti pemulihan pasar. Pada masa pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat, indeks S&P 500 rata-rata mengalami penurunan hingga 16 persen dari puncak ke titik terendah.
Sementara itu, Bitcoin bahkan pernah turun sekitar 56 persen dalam siklus yang sama. Meski begitu, dalam 12 bulan setelah periode tersebut, S&P 500 tidak pernah mencatatkan kinerja negatif sejak 1939 dan rata-rata naik 19 persen.
Bitcoin juga menunjukkan pola serupa dengan rata-rata kenaikan 54 persen dalam tiga periode pasca pemilihan yang tercatat.
Tekanan Teknis Berpotensi Menyeret Harga Bitcoin Lebih Rendah
Di sisi lain, tekanan jangka pendek masih membayangi pergerakan harga Bitcoin. Pada awal Maret, harga gagal bertahan di atas level USD 70.000 dan memicu peningkatan tekanan jual.
Analisis teknikal menunjukkan pola descending channel pada grafik mingguan, yang mengindikasikan tren penurunan jangka menengah. Selain itu, level USD 68.000 yang sebelumnya menjadi support kini berubah menjadi resistance kuat.
Jika harga gagal menembus kembali area tersebut, potensi penurunan lebih dalam semakin terbuka, bahkan hingga menguji level psikologis USD 60.000.
