BPS Catat Harga Emas Perhiasan Turun dan Picu Deflasi pada April 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976574/original/043353600_1441279137-harga-emas-6.jpg)
Jakarta – Badan Pusat Statistik mencatat harga emas perhiasan mengalami penurunan signifikan pada April 2026. Kondisi tersebut langsung mendorong terjadinya deflasi pada komoditas emas perhiasan setelah sebelumnya mencatat tren kenaikan harga selama 30 bulan berturut-turut sejak September 2023.
Dalam laporan resmi yang dirilis pada Senin, 4 Mei 2026, BPS menyebut emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 3,76 persen dengan andil terhadap deflasi mencapai 0,09 persen. Penurunan ini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan inflasi nasional pada April.
BPS Ungkap Penurunan Harga Emas Dipicu Pelemahan Pasar Global
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat deflasi terdalam selama April 2026. Menurutnya, emas perhiasan menjadi komoditas dengan kontribusi penurunan terbesar di kelompok tersebut.
Ateng menyampaikan bahwa harga emas internasional mulai melemah sejak Maret dan berlanjut hingga April 2026. Pelemahan harga global itu kemudian langsung memengaruhi harga emas perhiasan di pasar domestik.
Selain emas, BPS juga menemukan sejumlah komoditas lain yang ikut menekan inflasi, terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Penurunan permintaan masyarakat setelah periode Lebaran turut mempercepat koreksi harga di beberapa komoditas utama.
Inflasi Bulanan Tetap Naik Meski Harga Emas Melemah
Di sisi lain, BPS tetap mencatat inflasi secara bulanan sebesar 0,13 persen pada April 2026. Kenaikan tersebut terjadi karena beberapa sektor lain masih mengalami peningkatan harga.
Ateng menjelaskan indeks harga konsumen naik dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada April 2026. Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahun kalender hingga April 2026 tercatat mencapai 2,06 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan sebesar 0,99 persen dan andil 0,12 persen. Tarif angkutan udara menjadi faktor dominan dengan andil inflasi 0,11 persen, lalu diikuti bensin sebesar 0,02 persen.
Selain sektor transportasi, sejumlah komoditas seperti minyak goreng, tomat, beras, dan nasi dengan lauk juga ikut mendorong kenaikan harga selama periode tersebut.
Penurunan Harga Pangan dan Emas Tahan Laju Inflasi
Sementara itu, sejumlah komoditas tetap memberi tekanan deflasi pada April 2026. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,11 persen, kemudian diikuti emas perhiasan sebesar 0,09 persen.
Cabai rawit dan telur ayam ras juga ikut menahan laju inflasi nasional. Data tersebut menunjukkan penurunan harga pada sektor pangan dan emas berhasil meredam tekanan harga dari sektor transportasi dan energi.
