Harga Emas Dunia Bangkit Setelah Menyentuh Level Terendah dalam Sebulan
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu, 6 Mei 2026 waktu Jakarta, setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dalam lebih dari satu bulan. Kenaikan ini muncul ketika investor kembali memburu aset lindung nilai di tengah rapuhnya situasi geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global.
Mengutip laporan Antara, harga emas spot naik 0,8 persen menjadi USD 4.557,56 per ons. Pada saat yang sama, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman terdekat juga ditutup menguat 0,8 persen ke level USD 4.568,50 per ons.
Pergerakan ini terjadi setelah pasar sempat mengalami tekanan jual besar pada awal pekan. Kini, pelaku pasar mulai kembali masuk setelah melihat harga emas bergerak di area rendah.
Ketegangan Timur Tengah Dorong Investor Kembali Masuk ke Pasar Emas
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa kenaikan harga emas terjadi karena investor mulai melakukan aksi beli setelah tekanan jual signifikan dalam beberapa sesi terakhir.
Selain itu, penurunan harga minyak turut memberi ruang bagi pasar logam mulia untuk bergerak lebih stabil. Meski demikian, investor tetap memantau perkembangan konflik di Timur Tengah yang masih memanas.
Ketegangan kembali meningkat setelah Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal dan drone dari Iran. Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menyatakan gencatan senjata di kawasan masih berlangsung meskipun baku tembak kembali terjadi di sekitar Selat Hormuz.
Gangguan di jalur perdagangan strategis tersebut membuat pasar global khawatir terhadap distribusi energi, pupuk, dan berbagai komoditas penting dunia.
Suku Bunga Tinggi Masih Menekan Daya Tarik Emas
Walaupun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global, instrumen ini masih menghadapi tekanan dari ekspektasi suku bunga tinggi.
Analis pasar dari City Index, Fawad Razaqzada, menilai pembelian emas oleh bank sentral dunia masih membantu menahan penurunan harga yang lebih dalam. Namun, ekspektasi kebijakan moneter yang ketat tetap menjadi tantangan besar bagi logam mulia.
Pelaku pasar kini menanti data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk April 2026. Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi langkah kebijakan moneter Bank Sentral AS atau The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Jika pasar tenaga kerja tetap kuat, The Fed berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Namun, jika data menunjukkan pelemahan ekonomi, peluang penurunan suku bunga bisa kembali terbuka.
Logam Mulia Lain Ikut Menguat Bersama Emas
Selain emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat penguatan pada perdagangan yang sama. Harga perak naik 0,4 persen menjadi USD 73,03 per ons.
Selanjutnya, platinum menguat 1 persen ke level USD 1.963,30 per ons. Sementara itu, paladium naik lebih tinggi sebesar 1,5 persen menjadi USD 1.501,41 per ons.
Kenaikan ini menunjukkan pasar logam mulia mulai mendapatkan dukungan baru di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
