Batu Empedu Sapi di Australia Tembus Harga Lebih Mahal dari Emas Global
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721216/original/051913900_1705711229-fotor-ai-2024012073928.jpg)
Permintaan Tinggi Dorong Nilai Batu Empedu Sapi Melonjak di Pasar Dunia
Fenomena unik terjadi di pasar komoditas global ketika batu empedu sapi mencatat harga yang melampaui emas. Di Canberra, laporan terbaru menunjukkan bahwa komoditas yang sebelumnya dianggap limbah ini kini memiliki nilai jual sangat tinggi.
Lonjakan harga tersebut terjadi karena meningkatnya permintaan dari pasar Asia, khususnya Tiongkok daratan dan Hong Kong. Batu empedu sapi yang merupakan endapan keras dari cairan pencernaan kini menjadi buruan karena manfaat medisnya yang dipercaya luas.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, harga batu empedu sapi pada 2025 mencapai sekitar USD 5.800 per ons atau setara Rp98 juta. Nilai ini hampir dua kali lipat dibandingkan harga emas pada periode yang sama.
Pengobatan Tradisional Tiongkok Gunakan Batu Empedu Sapi sebagai Bahan Utama
Selama ribuan tahun, batu empedu sapi digunakan dalam praktik Pengobatan Tradisional Tiongkok. Bahan ini dikenal dengan nama Niu Huang dan menjadi komponen penting dalam berbagai ramuan herbal.
Salah satu produk terkenal yang menggunakan bahan ini adalah Angong Niuhuang Wan. Obat tersebut biasa digunakan untuk menangani kondisi serius seperti stroke, gangguan kesadaran, hingga komplikasi neurologis lainnya.
Tingginya angka stroke di Tiongkok turut memperbesar permintaan terhadap bahan ini. Bahkan, laporan menyebut angka kasus stroke di negara tersebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan Amerika Serikat, sehingga kebutuhan obat tradisional meningkat signifikan.
Kelangkaan Batu Empedu Sapi Picu Kenaikan Harga Secara Tajam
Selain permintaan yang tinggi, kelangkaan menjadi faktor utama yang mendorong harga batu empedu sapi melambung. Batu ini umumnya terbentuk pada sapi berusia tua, sementara industri peternakan modern cenderung menyembelih sapi lebih muda demi efisiensi produksi.
Akibatnya, peluang menemukan batu empedu alami menjadi semakin kecil. Kondisi ini memicu perburuan komoditas tersebut di berbagai negara penghasil ternak seperti Brasil, Australia, dan wilayah Texas.
Kelangkaan ini bahkan memicu fenomena yang disebut sebagai “demam batu empedu” di kalangan peternak dan pelaku industri.
Harga Tinggi Batu Empedu Sapi Picu Aksi Kriminal dan Pasar Gelap
Tingginya nilai jual batu empedu sapi memicu munculnya berbagai tindak kriminal. Di wilayah Bahetus, negara bagian São Paulo, Brasil, sejumlah peternakan menjadi target perampokan.
Pelaku tidak mencuri sapi, melainkan memburu batu empedu yang mungkin terdapat di dalam tubuh hewan tersebut. Selain itu, kasus penyelundupan di rumah potong hewan juga mulai meningkat.
Beberapa pekerja dilaporkan menyembunyikan batu empedu untuk dijual secara ilegal. Kondisi ini mendorong terbentuknya pasar gelap yang memperdagangkan komoditas langka tersebut secara tidak resmi.
Peneliti Kembangkan Batu Empedu Sintetis untuk Menjawab Permintaan Pasar
Menanggapi tingginya permintaan, para peneliti di Tiongkok mulai mengembangkan batu empedu sintetis. Produk ini dirancang untuk meniru manfaat medis batu empedu alami, terutama dalam perlindungan saraf dan fungsi hati.
Meski demikian, batu empedu alami masih dianggap memiliki kualitas terbaik dalam praktik pengobatan tradisional. Oleh karena itu, permintaan terhadap versi alami tetap tinggi.
Di sisi lain, laporan media Rusia juga mengungkap meningkatnya permintaan batu empedu manusia di pasar Tiongkok. Harga satu batu empedu manusia bahkan bisa mencapai sekitar USD 1.270 atau sekitar Rp21 juta, tergantung kualitasnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa komoditas yang sebelumnya dianggap limbah biologis kini telah berubah menjadi barang bernilai tinggi di pasar global.
