Investasi Emas Melonjak 60 Persen dalam Setahun dan Kian Diminati Masyarakat
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5521456/original/046444200_1772690467-unnamed__73_.jpg)
Pemerintah Jalankan Bank Emas Lebih Dulu Sebelum Menyusun Roadmap
Pemerintah Indonesia kini menghadirkan konsep Bank Emas untuk pertama kalinya dengan dukungan roadmap pengembangan ekosistem. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa pemerintah sengaja menjalankan program tersebut lebih dulu sebelum menyusun peta jalan secara lengkap.
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai tantangan dalam perencanaan. Setelah berjalan sekitar satu tahun, pemerintah akhirnya merampungkan roadmap yang kini memperkuat sistem Bank Emas di Indonesia.
Kenaikan Harga Emas Dorong Lonjakan Nilai Investasi
Seiring berjalannya waktu, harga emas global mengalami peningkatan signifikan. Saat awal peluncuran Bank Emas, harga emas berada di kisaran 3.000 dolar AS per troy ounce. Kini, harga tersebut melonjak hingga lebih dari 5.000 dolar AS atau sekitar 5.236 dolar AS per troy ounce.
Kondisi ini mendorong kenaikan nilai investasi emas hingga sekitar 60 persen dalam satu tahun. Airlangga bahkan menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut menjadikan emas sebagai salah satu instrumen investasi paling menarik saat ini.
Pegadaian Catat Pertumbuhan Nasabah dan Tabungan Emas
Lonjakan minat masyarakat terhadap emas juga tercermin dari kinerja lembaga keuangan, terutama PT Pegadaian. Perusahaan ini mencatat Return on Asset (ROA) sebesar 6,7 persen dari bisnis emasnya.
Selain itu, jumlah nasabah tabungan emas meningkat pesat dari 3,2 juta menjadi 5,7 juta. Tidak hanya itu, total tabungan emas masyarakat juga naik dari 10,5 juta gram menjadi 19,25 juta gram. Secara keseluruhan, Pegadaian kini mengelola sekitar 141,7 ton emas.
Airlangga bahkan menyebut bahwa volume pengelolaan emas Pegadaian telah melampaui cadangan emas yang dikelola oleh Bank Indonesia.
Bank Syariah Indonesia Perluas Layanan Emas dan Tambah Nasabah
Di sisi lain, Bank Syariah Indonesia turut mencatat pertumbuhan signifikan pada layanan emas. Hingga saat ini, jumlah nasabah penitipan emas mencapai 766 ribu orang dengan total pengelolaan sekitar 22,5 ton emas.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya terhadap instrumen investasi berbasis emas, baik melalui lembaga konvensional maupun syariah.
Ketidakpastian Global Perkuat Posisi Emas sebagai Safe Haven
Airlangga menilai bahwa tingginya minat terhadap emas tidak terlepas dari perannya sebagai safe haven investment. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, termasuk konflik geopolitik, masyarakat cenderung memilih emas sebagai aset yang lebih stabil.
Oleh karena itu, emas terus menjadi alternatif investasi yang diminati karena mampu menjaga nilai aset di tengah gejolak ekonomi dunia.
