Harga Emas Mencatat Penurunan Terburuk Sejak 2013 pada Maret 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Harga Emas Menguat Harian tetapi Menutup Bulan dengan Penurunan Tajam
Jakarta – Harga emas dunia sempat menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu waktu Jakarta, namun tetap menutup Maret 2026 dengan kinerja terburuk dalam lebih dari satu dekade. Data menunjukkan harga emas naik lebih dari 2 persen dan ditutup di level USD 4.678,60 per troy ons.
Meski demikian, secara bulanan harga emas justru turun lebih dari 10 persen. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak Juni 2013 sekaligus mengakhiri tren kenaikan yang telah berlangsung selama delapan bulan berturut-turut.
Harga Perak Menguat Harian tetapi Terkoreksi Dalam Selama Maret
Selain emas, harga perak juga mencatat kenaikan harian yang cukup signifikan. Logam mulia tersebut naik lebih dari 6 persen ke posisi USD 74,92 per troy ons.
Namun, pergerakan bulanan menunjukkan tekanan yang lebih dalam. Sepanjang Maret 2026, harga perak anjlok lebih dari 19 persen. Penurunan ini mengakhiri tren penguatan selama 10 bulan dan menjadi kinerja bulanan terburuk sejak 2011.
Harga Emas dan Perak Tetap Mencatat Kenaikan Sepanjang Kuartal I 2026
Meskipun mengalami tekanan pada Maret, kinerja kuartalan kedua logam mulia tersebut masih menunjukkan pertumbuhan positif. Harga emas tercatat naik lebih dari 7 persen sepanjang kuartal pertama 2026.
Sementara itu, harga perak juga menguat lebih dari 6 persen dalam periode yang sama. Capaian ini menunjukkan bahwa tren jangka menengah masih bertahan meski volatilitas meningkat dalam jangka pendek.
Konflik AS dan Iran Mendorong Ketidakpastian Pasar Global
Pergerakan harga emas dan perak terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki minggu kelima. Situasi ini membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi arah ekonomi global.
Laporan Wall Street Journal menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk mengakhiri konflik militer dengan Iran meskipun Selat Hormuz masih berpotensi tertutup sebagian. Namun, ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menyerang fasilitas vital Iran jika kesepakatan tidak segera tercapai.
Amerika Serikat Mengirim Pasukan dan Menegaskan Target Operasi Militer
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyampaikan bahwa target Washington di Iran dapat tercapai dalam hitungan minggu, bukan bulan. Pernyataan tersebut mempertegas sikap agresif pemerintah AS dalam konflik yang sedang berlangsung.
Selain itu, laporan Reuters mengungkapkan bahwa sekitar 2.500 Marinir AS telah tiba di kawasan Timur Tengah pada akhir pekan. Pasukan tersebut berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang dikenal sebagai unit elite militer.
Lonjakan Harga Energi Meningkatkan Inflasi dan Menekan Harga Emas
Konflik di kawasan Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dan gas global akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi. Kondisi ini kemudian meningkatkan ekspektasi inflasi di berbagai negara.
Kenaikan inflasi berpotensi mendorong bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Akibatnya, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil menjadi berkurang, sehingga tekanan terhadap harga emas pun meningkat.
