BPS Catat Emas Perhiasan Mengalami Deflasi pada Maret 2026 Setelah 30 Bulan Inflasi
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976571/original/042940100_1441279137-harga-emas-3.jpg)
BPS Mengungkap Penurunan Harga Emas Menjadi Fenomena Baru
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas emas perhiasan mengalami deflasi pada Maret 2026. Kondisi ini menandai perubahan tren setelah selama 30 bulan berturut-turut emas terus mengalami inflasi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa penurunan harga emas tersebut menjadi perkembangan penting dalam dinamika inflasi nasional. Ia menegaskan bahwa untuk pertama kalinya dalam periode panjang tersebut, emas tidak lagi mencatat kenaikan harga.
BPS Mencatat Deflasi Emas Secara Bulanan dan Kontribusinya terhadap Inflasi
Secara bulanan, BPS mencatat tingkat deflasi emas perhiasan mencapai 1,17 persen. Penurunan ini turut memberikan kontribusi terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen.
Dengan capaian tersebut, emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil deflasi terdalam dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mencatat deflasi sebesar 0,21 persen dan menjadi salah satu penyumbang utama penurunan harga pada Maret 2026.
BPS Menunjukkan Kelompok Perawatan Pribadi Mengalami Deflasi Terendah dalam Empat Tahun
Selain itu, BPS mencatat bahwa deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya merupakan yang terendah dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola harga di sektor tersebut dalam jangka menengah.
Di sisi lain, inflasi bulanan secara keseluruhan tetap terjadi meskipun melambat. Pada Maret 2026, inflasi tercatat sebesar 0,41 persen, lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 0,68 persen.
Indeks Harga Konsumen (IHK) juga meningkat dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95 pada Maret 2026. Kenaikan ini menandakan tekanan harga masih berlangsung meski lajunya mulai menurun.
Kelompok Pangan Tetap Mendominasi Inflasi Meski Emas dan Transportasi Menekan Harga
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan sebesar 1,07 persen dan kontribusi 0,32 persen.
Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, serta daging sapi. Kenaikan harga komoditas tersebut menjaga inflasi tetap positif di tengah adanya tekanan deflasi dari sektor lain.
Di sisi lain, selain emas perhiasan, tarif angkutan udara juga memberikan kontribusi terhadap deflasi masing-masing sebesar 0,03 persen.
Secara tahunan, inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,48 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender hingga Maret 2026 mencapai 0,94 persen.
