Harga Emas Tertekan Akibat Penguatan Dolar AS dan Sinyal Suku Bunga Tinggi
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
Dolar AS Menguat dan Menekan Harga Emas Dunia
Jakarta – Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Kamis, 3 April 2026. Tekanan ini muncul seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor global.
Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kelanjutan serangan terhadap Iran turut memicu ketidakpastian pasar. Situasi ini mendorong pelaku pasar beralih ke dolar AS sebagai aset aman, sehingga menekan daya tarik emas.
Mengutip CNBC, harga emas spot turun 3,6 persen ke level USD 4.587,55 per ons, setelah sebelumnya sempat mencapai posisi tertinggi dalam dua pekan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga melemah 2,7 persen menjadi USD 4.679,70.
Pernyataan Trump Memicu Kekhawatiran Inflasi dan Menahan Penurunan Suku Bunga
Pasar merespons kuat pidato Donald Trump yang menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran masih akan berlanjut. Ia bahkan menyebut bahwa Amerika Serikat siap meningkatkan tekanan hingga mencapai target strategisnya.
Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia yang kemudian meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Akibatnya, emas kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi lainnya saat suku bunga berada di level tinggi. Tekanan ini mempercepat penurunan harga logam mulia dalam beberapa hari terakhir.
Penurunan Cadangan Emas Turki dan Dinamika Permintaan Asia Tekan Pasar
Sentimen negatif juga datang dari laporan penurunan cadangan emas bank sentral Turki. Dalam sepekan terakhir, cadangan emas Turki turun 69,1 metrik ton menjadi 702,5 ton. Bahkan, dalam dua pekan terakhir total penurunan mencapai lebih dari 118 ton.
Langkah ini dilakukan untuk meredam dampak gejolak pasar akibat konflik yang sedang berlangsung. Di sisi lain, dinamika permintaan di Asia menunjukkan perbedaan tren.
Di India, pelaku pasar mulai meningkatkan pembelian emas karena harga yang lebih rendah memicu minat beli. Sebaliknya, di China, investor cenderung menahan transaksi karena menunggu potensi penurunan harga lebih lanjut.
Sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari 2026, harga emas tercatat telah turun sekitar 13 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik, pergerakan dolar AS, dan kebijakan suku bunga masih menjadi penentu utama arah harga emas global.
